“Maksud Dia Bicara Seperti Itu, Apa Ya?”

by on

Beberapa hari yang lalu, saya menerima pertanyaan yang nyaris serupa dari dua teman dalam kesempatan dan permasalahan yang berbeda: “Maksud dia bicara seperti itu, apa yah?”

Dan jawaban saya sama: “Hambuh.” Plus emoticon tertawa agar nggak terlihat saya nggak peduli atau malas mikir, tapi memang saya nggak tahu, dia yang teman saya maksud itu, bermaksud apa dengan bicara seperti itu. Ya nggak mungkin ngerti dong, kecuali kalau kita bertanya langsung pada yang bersangkutan. Itupun, belum tentu kita puas dengan jawabannya. Bisa jadi, nanti kita mempertanyakan jawabannya lagi, atau meragukan ketulusan dia dalam menjawab. Jadi, daripada pusing berkelanjutan, mending nggak usah penasaran toh, mencari tahu ada maksud apa di balik kata-kata yang kita terima? Usaha bertanya sekali pada yang bikin penasaran, boleh juga, habis itu ya percayailah jawabannya. Nggak perlu curiga “ah, dia ngomong gitu karena menjaga perasaan saya”. Atau, “dasar tukang pencitraan, dipikirnya gue nggak tahu hidup dia sebenarnya gimana”. Atau… Nggak akan ada habisnya deh, karena jujur, terkadang jawaban yang berkenan di telinga kita adalah jawaban yang kita ingin dengar, bukan jawaban yang sebenarnya. Jadinya ya rauwis-uwis.

Jadi untuk amannya daripada pusing dan sakit hati karena omongan orang, singkat saja: nggak perlu penasaran.

Jangan salah, untuk sampai pada pemahaman ini, perjalanan saya jauh sangat lho. Jatuh bangun karena sakit hati dan habis energi karena penasaran atas maksud perkataan teman-teman saya. Dan toh, beberapa pertanyaan sampai sekarang nggak terjawab juga. Sampai saya juga sudah lupa asal muasal mengapa pertanyaan itu mencuat. Tapi saya udah nggak penasaran lagi. Anggap saja itu “unfinished business” yang cukup dimasukkan ke laci ingatan, tanpa perlu ditengok-tengok lagi. Kalau kebetulan teringat, ya nasib, buka saja, lihat, cerna sambil tertawa, iya, jadikan sebagai lelucon hidup saja. Lelucon hitam yang kita nggak perlu protes karena yang kasih hidup ini ‘kan suka bercanda. Jadi, tertawa saja. Menertawakan dia boleh, menertawakan diri sendiri, lebih sehat.

Make it simple. Take it as it is. Karena perjalanan kita masih panjang, dan kita musti hemat energi agar tidak terpuruk di lembah ketersia-siaan. (Najis banget deh kata-kata saya yang terakhir ini. Maafkan.)

You may also like

Leave a Comment

Your email address will not be published.