Persinggahan Hati

by on

 

Pada suatu kurun waktu, saya sering berpuisi maupun meracau tak tentu. Puisi dan cerita terserak di mana-mana. Terkubur sampai tiba-tiba kumpulan kata ini muncul setelah penggalian panjang. Agar tak lagi hilang, saya akan posting ulang di sini setelah melalui pengeditan seperlunya. Semoga berkenan.

Semua orang mengenal Bian sebagai makhluk yang tidak pernah kekurangan teman. Kemana pun dia pergi, pendampingnya selalu serombongan. Berganti-ganti pula. Jadi jangan heran bila dalam seminggu bisa setiap malam dia keluar untuk bersenang-senang. “Malam ini aku menemani si A, besoknya si B minta ditemani, besoknya lagi si C mengeluh kesepian, begitu seterusnya,” paparnya ditutup dengan ketawa renyah dan ringan. Baginya hidup memang seperti lelucon yang patut dimaknai dengan tawa.

Tapi toh, dia tetap manusia biasa. Ada saat-saat ia merasa sepi. Di tengah keramaian, bisa saja ia tiba-tiba menarik diri dari kerumunan, duduk-duduk di sofa menenggak whiski kesukaannya. Kalau sudah begitu, semua mafhum dan tidak ada yang berani mengusiknya. Paling-paling nanti normal lagi, begitu ujar temannya sambil terus menikmati dentaman musik diselingi guyuran tequila dan sorakan riang bila DJ memutar lagu kesukaan mereka. Teman-temannya pun takkan heran bila tiba-tiba Bian pamit pulang, meninggalkan keriaan, berjalan entah pulang atau, lebih sering, menuju satu-satunya tempat yang bisa melipur sepi yang datang tanpa permisi.

Pantai Petitenget.

Seseorang mengenalkan pantai itu kepada Bian empat tahun silam, ketika Bian masih terhitung sebagai pendatang baru di Pulau Bali. Pantai dengan hamparan pasir putih memanjang, ombak yang tidak seberapa besar, dan keramaian yang tidak separah Pantai Kuta. “Ini pantai kesukaanku,” kata Meara waktu itu. Bian termangu, gelap sudah ketika itu, langit cerah berbintang dan bulan tak tahu sembunyi di mana. Debur ombak jadi latar belakang sementara mereka hanya berdiri terdiam.

Sejak itu Petitenget jadi pantai kesukaan Bian pula, meski sekarang pantai itu telah ramai sebagaimana Pantai Kuta. Telah menjadi ritual bagi Bian untuk membuang segala penat dan keluh di sana. Tak kenal waktu, siang bolong pun ia menyempatkan datang, hanya untuk menyalakan sebatang rokok, tanpa turun dari mobil, duduk diam sendiri menatap nanar ombak yang berdebur tanpa bosan. Mereka-reka, di manakah kini Meara berada. Sahabat yang lantas jadi tumpahan cinta terakhirnya itu, telah pergi dua tahun silam tanpa berpamitan. Kata cinta yang tak sengaja terlontar dari mulut Bian, cinta yang semestinya harus tetap jadi rahasia, akhirnya jadi penghancur persahabatan mereka.

“Lagian elu sih,” cela temannya tanpa tedeng aling-aling,”Sudah tahu Meara sukanya lelaki, bukan pecinta sesama wanita kayak elu!”

*****

Belakangan ini kembali Bian terhantui satu nama: Stevi. Baru dua minggu mereka berkenalan melalui perantaraan seorang teman. Status Stevi sebagai lesbian yang sedang ‘in relationship’, membuat Bian langsung membatasi jarak. Jangan sampai ia terantuk lagi pada cinta yang akhirnya membuat dia sakit hati. Meskipun secara fisik, wajah Stevi dengan rambut cepak dan gaya casualnya benar-benar mengena di hati Bian, dan meskipun kekasih Stevi nun jauh di Pulau Jawa sana, tidak terpikir sedikitpun oleh Bian untuk memanfaatkan situasi, menggoda-goda Stevi untuk beralih pada dirinya. Tidak. Dia sudah cukup bahagia dengan kelajangannya, walau tiada dia pungkiri, akan terasa lebih komplit bila ada seseorang yang konon adalah belahan jiwa, di sampingnya.

Seorang Bian tidak pernah menolak kehadiran teman baru, siapapun itu. Maka ia menurut saja ketika Stevi mengajaknya makan malam, mengejar senja, menyusuri Denpasar tengah malam, semua kegiatan berdua yang makin lama makin teratur jadwalnya.

Masalah mulai muncul ketika tiba-tiba saja, Stevi putus dengan kekasihnya. Racauan Stevi terterima Bian dengan tenang. Ia diam menampung segala curahan cerita Stevi dan menguatkan Stevi bahwa semua akan baik-baik saja. Mungkin memang itu jalan terbaik bagi Stevi dan mantan kekasihnya. Atau mungkin, ya, siapa tahu keputusan itu diambil dalam keadaan hati penuh emosi? Siapa tahu, beberapa hari lagi si mantan akan menghubungi Stevi dan mereka akan rujuk kembali?

Beberapa teman yang tahu kisah putus cintanya Stevi, malah memberi kisikan yang segera ditampik oleh Bian. Tidak, tidak akan dia pernah memanfaatkan situasi saat seseorang sedang limbung. Ia hanya akan menjadi teman yang baik, sampai Stevi bisa menjalani harinya seperti biasa, tanpa perlu menghiasi pagi dengan mata sembab dan hati penuh sesak.

Yang lantas membuat Bian serasa tertampar adalah ketika ia merasa Stevi menjauhinya. Beberapa ajakan untuk makan malam seperti yang biasa mereka lakukan, tertolak dengan alasan kesibukan Stevi. Pesan-pesan yang dia kirimkan lewat SMS, mulai tidak terbalas. Telepon dari Bian, mulai berujung di mailbox tanpa terangkat.

Bian kembali intens menziarahi Pantai Petitenget.

Terhapus nama Meara, tergantikan oleh Stevi yang memenuhi ruang pikirnya. Seribu kata ‘mengapa’ menghunjam seiring deburan ombak yang menghitam di beludru malam. Bila Bian datang kala senja, matahari mulai tampak pucat baginya, tidak lagi ada senja kemayu seperti saat Stevi tersenyum malu-malu. Bila Bian datang kala purnama, gaung puja saat orang berupacara di pura serasa sekian juta tahun cahaya jaraknya, membuat ia merintih ditindih ruang hampa.

Saat-saat seperti itu, Bian merutuk kenapa dia musti menelan kepahitan itu lagi. Sakit hati karena ditinggalkan, karena tidak dimengerti, karena tidak mengerti. Mengapa Stevi musti pergi, setelah segala kemanisan yang sempat mereka reguk murni atas nama persahabatan? Apakah Stevi curiga, bahwa Bian akan jatuh hati padanya? Apakah Stevi takut memberi harapan lebih, sehingga ia memilih menyingkir pergi? Sebaliknya, apakah perlakuan Bian berlebih sehingga Stevi merasa jengah?

Bian merasa ia masih dalam koridor kewajaran, ia tidak menampik bahwa ia sayang pada Stevi, tapi itu rasa sayang murni sebagai sahabat, atau boleh dibilang sebagai seorang kakak.

Kabar berita yang datang belakangan semakin membuat Bian tertohok: Stevi rujuk kembali pada kekasihnya. Bian hanya tersenyum miris,”Lihat, apa yang dahulu kubilang? Pada akhirnya mereka akan berbaikan lagi.”

Toh berita itu tidak menuntaskan kegemasan dan rasa penasaran Bian mengapa Stevi tiba-tiba saja pergi. Terpaksa ia mengamini analisa seorang temannya. “Sudahlah, Stevi memang anaknya begitu, dia tidak pernah peduli perasaan orang. Suka-suka dia saja. Mungkin dia juga tidak pernah merasa dekat denganmu, jadi sah baginya bila sekarang dia memutuskan kontak. Lagipula teman kamu masih banyak, mengapa hatimu musti hancur gara-gara seorang yang tidak tahu diri?”

Ya, mungkin segala kemanisan yang bagi Bian teramatlah indah itu, bagi Stevi hanyalah rentetan peristiwa keseharian yang biasa saja untuk dijalani dan dilupakan. Seperti orang minum air putih, tidak ada yang istimewa, tidaklah perlu diapresiasi sedemikian tinggi sebagaimana jika menyesap wine usia puluhan tahun.

Biasa saja.

“Memang benar,” akhirnya Bian menyerah juga,”Tapi berhak bukan, aku merasa sakit hati karena ditinggalkan. Seenaknya saja dia datang dan pergi. Sementara aku sudah jatuh sayang padanya, menganggapnya seperti adikku sendiri, menjaganya agar tidak terluka setelah aku sendiri berhasil menjaga diriku agar tidak terperangkap pada cinta.”

*****

Bian baru saja duduk dan menutup pintu mobil, ketika sesosok perempuan berlari-lari mendekat. Sigap dia menurunkan kaca sebelah kiri.

“Ya?”

“Boleh numpang? Sampai lewat pertigaan itu.”

“Silakan,” tanggap Bian tanpa pikir panjang. Pintu terbuka dari dalam dan perempuan itu segera meluruk masuk.

“Pasti kamu nggak bawa helm ya?” tebak Bian beramah-ramah.

Perempuan itu sejenak terperangah dan menjawab,” Iya, nebeng dulu sampai di tikungan depan ya, biasanya ada polisi di tikungan itu.”

“Ya, aku tahu,” kata Bian. Teman si perempuan yang membawa motor dan memakai helm, mendului mereka dengan lambaian tangan menandakan ia akan menunggu mereka di depan. Bian segera menjalankan mobil. Meskipun mendadak kecurigaan terbit, adalah aneh menumpang mobil orang di saat malam telah lama lewat puncaknya. Ia melirik jam, nyaris jam tiga pagi. Doh, jangan-jangan….

Uh. Pikiran buruk itu segera Bian tepis. Alih-alih ia malah beramah-ramah dengan perempuan itu. Mengorek cerita, bahwa si perempuan berasal dari Banyuwangi, malam itu dia habis pulang dugem di klab tempat Bian melewatkan malam juga, tapi lupa bawa helm karena ia berangkat naik taksi dan baru di klab bertemu dengan temannya tadi.

Tikungan yang ditakuti, yang biasanya jadi tempat polisi merazia para pemakai kendaraan yang tidak taat peraturan, ternyata sepi. Tapi motor si teman tak memperlihatkan tanda-tanda akan berhenti, malah semakin kencang menyusuri jalan Melasti.

“Sudahlah,” Bian menenangkan si perempuan yang gemas kenapa temannya tak juga berhenti,”Di perempatan Legian situ malah biasanya ada polisi. Nanti aku turunkan setelah perempatan saja.”

Perempatan Legian terlewati dan motor si teman sudah terlihat berhenti di samping jalan. Bian melepas kepergian perempuan itu dengan geli.

Sepanjang perjalanan pulang, ia mencoba mereka kejadian aneh yang baru saja dialaminya. Seumur-umur belum pernah ia ditumpangi oleh perempuan asing jam tiga pagi, dan tak pernah pula ia mendengar kisah serupa dari teman-temannya.

Lalu mengapa juga perempuan itu menumpang mobilnya? Ia merunut beberapa kemungkinan.

Satu, memang perempuan itu tidak membawa helm dan takut tertangkap polisi. Namun, setelah perempuan itu bergabung dengan temannya yang membawa motor, bukankah mereka berbelok menuju Jalan Legian? Yang berarti, di sana ancaman tertilang polisi karena tidak memakai helm, masih cukup besar?

Dua, apakah ini modus kejahatan baru? Jangan-jangan perempuan itu berharap bisa mendapat sesuatu yang bisa disikat dari mobil Bian. Entah hape, dompet, tas, tapi untunglah semua barang Bian masih lengkap di kursi belakang. Kalau memang berniat jahat, mustinya jangan nanggung-nanggung, keluarkan saja pisau sekalian.

Tiga, apakah mungkin perempuan itu mengira Bian adalah seorang pria, yang bisa jadi mangsa empuknya? Mungkin perempuan itu butuh kejar setoran. Setelah mencoba jual diri di klab semalaman namun tidak laku juga, tak ada salahnya mencoba berdagang di jalanan. Buktinya sebelum perempuan itu menuju mobil Bian, dia sempat bercakap entah apa dengan penumpang mobil yang parkir di dekat gerbang. Transaksi yang gagal, mungkin, maka dari itu si perempuan langsung beralih sasaran, melihat sosok Bian yang memang kelelakian.

Nyaris tergelak Bian mendapati kemungkinan ketiga yang dirasanya paling masuk akal itu. Hidup memang lelucon!

Tuntas gelaknya, tiba-tiba Bian mendapat pencerahan.

Sepertinya memang Bian ditakdirkan menjadi tempat persinggahan. Tempat orang-orang melepas lelah sejenak, atau butuh berhenti menyiapkan tambahan bekal, sebelum melanjutkan perjalanan.

Seperti yang dilakukan oleh Stevi. Tiba-tiba, Bian merasa bahwa sewajarnyalah Stevi datang untuk mengobrak-abrik hari-harinya meski tanpa Stevi sadari. Sewajarnyalah, karena bukankah untuk itu Bian ada, sayap malaikatnya itu bagai penghangat para pesinggah, dan ketika segala lebam telah sirna, semestinyalah Bian merenggangkan pelukan, memberi kesempatan pesinggah itu untuk kembali meneruskan perjalanan, meninggalkannya.

Karena bila hidup adalah perjalanan, sesungguhnya di satu titik, setiap hati butuh istirah melepas lelah, dan tempat singgah itu hanyalah untuk singgah.

Sesederhana itulah.

1 Comment
  1. Andro 1 year ago

    I always enjoy to read every story you shared…

Leave a Comment

Your email address will not be published.