Pengembara

by on

 

 

Pada suatu kurun waktu, saya sering berpuisi maupun meracau tak tentu. Puisi terserak di mana-mana, dan terkubur sampai tiba-tiba kumpulan kata ini muncul setelah penggalian panjang. Agar tak lagi hilang, saya akan posting ulang di sini bersama tempelan ingatan yang tersisa kini. Semoga berkenan.

seorang pengembara, ia
mengetuk pintu-pintu dari waktu ke waktu.
takkan ia memaksa untuk terbuka
ia cukup puas, pun bila harus duduk di teras
sekedar untuk menghela nafas.
kapankah ia datang?
ia tak butuh undangan. gelisah di hatimu,
amarah terpendammu, akan gelitik kakinya
untuk segera menghampirimu.
bila ia menghilang, tak usah kau bimbang:
semua nama yang pernah tercatat di agendanya,
selalu terbawa olehnya.
seorang pengembara, ya,
juga seorang pencerita, ia.
itulah harta yang ia punya: kisah-kisah hidup manusia
tanpa bosan ia keluarkan pada setiap pejalan
yang kebetulan berpapasan.
seperti cermin, ia yakini itulah kekuatan cerita:
kamu bisa dapati dirimu di sana. jumputan moral
akan kuatkanmu dalam perjalanan.

seorang pencerita, gemar sekali bicara.
namun jangan salah tafsir:
bukan berarti ia gemar umbar rahasia.
aih, apakah ia simpan banyak rahasia?
sekali sempat ‘ku bertanya.
jawabnya: senyuman belaka.
[apakah itu berarti ya, ataukah tidak,
siapakah aku untuk peduli itu?]
dan apakah kisah favoritnya?
tak lebih dari kisah hidupnya sendiri, yang ia rasa
makin mendekati bab akhir.

“aku tak berani berkata-kata
untuk apa yang tak kutahu pasti. karena itu, yang kuyakini
hanyalah yang kualami. yang tercerap lewat hidung, mata,
telinga, teraba lewat jari-jari, tertapak oleh kaki. dan itu
adalah: diriku sendiri.”
karena itu, di setiap akhir kisah, ia tak lupa menyisipkan
permintaan maaf. “karena aku hanyalah manusia biasa,
yang bahkan belum tercerahkan. indraku masih sering
keliru.”

dan inilah syair penghiburnya:
“bukankah kita manusia yang sempurna karena
ketidaksempurnaan.
karena itu, maafkan aku.”
lalu ia akan berkemas, meneruskan perjalanan.
kemana, ia tak tahu.
ia telah kenyang oleh kepahitan karena pengharapan.
masa muda mengajarkan padanya:
janganlah berharap, agar jangan kecewa.
karena itu pula, kepada mereka yang berharap kepadanya,
dengan santun ia tersenyum:
“pun padaku, janganlah berharap padaku.
telah banyak pula hati retak kubuat,
maka marilah kita berjalan bersama,
kau hapuskan letihku, kuusap keringatmu.”

seorang pengembara ia.

 

Saya lupa kapan tepatnya menulis puisi ini, yang jelas itu periode di mana saya sedang giatnya bersastra ria di satu mailing list yang cukup heboh saat itu.

You may also like

Leave a Comment

Your email address will not be published.