Cerita Lalu: Perpustakaan Masa Kecil

by on

 

Orang tua saya menanamkan kebiasaan membaca buku sedari dini. Saat saya masih SD, saya ingat kami berlangganan semua majalah. Mulai Kuncung, Ananda, Bobo, Kawanku, Tomtom, Hai, Album Cerita Ternama, Panjebar Semangat, Femina plus koran harian nasional dan daerah.

Kami diajar untuk berdisiplin untuk mengantri giliran membaca. Jadi misalkan ada majalah Hai datang, kakak saya yang menerimanya dari si tukang antar, maka ia berhak jadi si nomor satu.

Apabila saya melihat tepat setelah si nomor satu menerima majalah, saya berteriak dan berhak menjadi “nomor dua”. Demikian seterusnya sampai nomor lima (kami lima bersaudara).

First come first served. Gitu deh prinsipnya.

Dan itu diterapkan secara disiplin. Setelah si nomor satu selesai membaca, dia akan beredar mencari si nomor dua, meskipun yang lain ada di sekitarnya.

Secara nggak langsung, kami diajarkan untuk disiplin mengantri. Dan menghargai hak orang lain. Tidak mentang-mentang dan mau menang sendiri.

Terkadang kami berlaku konyol. Kami sudah hapal hari dan jam si tukang majalah akan datang. Saya bersiap di ruang tamu, eh tahu-tahu kakak pertama nongkrong di beranda, trus tahu-tahu kakak kedua nongkrong di rumah tetangga di ujung gang, trus kalau saya nggak mau kalah, saya nongkrong beneran di gang jalan raya mencegat si tukang majalah.

Kalau dipikir-pikir sekarang, geli juga, tapi kala itu sedemikian seriusnya kami berjuang untuk mendapat giliran pertama.

Apesnya kalau saya menunggu di ujung gang satu, lalu si tukang majalah mengganti kebiasaannya dan muncul dari ujung gang dua. Apes dah.

Pernah sekali, saya dan kakak bergelut di pintu rumah, karena kami sama-sama merasa kami yang pertama kali menyentuh majalah yang diulurkan oleh si tukang antar.

Benar-benar bergelut, sampai Ibu datang dan mengambil majalah yang kami perebutkan, lantas merobek-robek majalah itu sampai kami bengong. Adil ‘kan, nggak ada yang dapat. Gitu aja kok repot.

Karena koleksi majalah menumpuk, saya punya ide untuk mendirikan perpustakaan. Biasanya pas liburan sekolah. Cukup gelar tikar di teras rumah atau teras tetangga.

Tentu saja yang mau pinjam, bayar. Berkisar dari Rp. 5 per majalah per hari sampai Rp. 25 untuk buku cerita (tahun ’80an, duit segitu masih sangat berarti ya). Bisa dibawa pulang, atau dibaca di tempat.

Peminatnya lumayan lho. Keuntungan yang saya dapat – saya masih SD saat itu – saya belikan buku lagi. Dan ini jadi pelajaran bisnis pertama bagi saya.

Jadi ceritanya setelah keuntungan mulai banyak, saya minta Bapak membawa saya ke Gramedia. Duit saya yang sebenarnya gak seberapa itu ternyata cuma dapat 2 buku cerita di Gramedia.

Pastinya buku cerita yang bagus, cetakan lux, salah satunya kumpulan cerita anak yang bergambar keren. Harganya satu buku sekitar tiga sampai limaribuan.

Ternyata, buku yang mahal dan bagus itu sedikit peminatnya. Mungkin karena tebal. Dan lebih didominasi kata daripada gambar.

Setelah duit saya terkumpul kembali, saya berbelanja buku lagi. Kali ini Bapak membawa saya ke Pasar Johar. Di sana banyak penjual buku bekas dan komik HC Andersen yang harganya cuma Rp. 200,- Bayangkan dong cukup banyak komik yang saya bawa pulang.

Komik-komik murahan itu (dari kualitas cetak, kalau ceritanya ya seputar ringkasan cerita HC Andersen gitu deh), ternyata malah banyak peminatnya, dan duit saya lancar berputar.

Itu pelajaran pertama saya dalam menilai selera pasar. Kalau mau jualan, jangan mengikut selera pribadi, tapi turuti saja apa yang pasar inginkan. (Kecuali kalau Anda seorang Steve Jobs, ya.)

Saat itu kakak saya bertanya, mengapa saya nggak menggratiskan perpustakaan saya. Dalih saya, kalau saya gratiskan nanti banyak yang hilang, dan memungut biaya sewa yang nggak seberapa itu saya rasa masih pantas untuk mendapat modal belanja buku lebih banyak lagi, yang akhirnya toh akan memuaskan anggota perpustakaan saya.

Mungkin karena bosan, perpustakaan masa liburan itu nggak saya teruskan. Mungkin juga karena mulai ada kompetitor, para tetangga mulai bikin perpustakaan juga. Atau pasar mulai jenuh. Entahlah, saya nggak ingat jelas. Yang pasti, masa kecil saya jadi berwarna karena pengalaman saya.

You may also like

4 Comments
  1. dj 4 years ago

    Buset kalo thn 80 lo dah sd dan dah jualan, g masih blajar jalan bow

  2. bayik 4 years ago

    lol… sebenarnya gw udah bakat cari duit dari kecil kan ya hahahaha.

  3. intanrawits 1 year ago

    jaman skrg kl bkin perpus kekgt msh bs laku ga ya, xixixi…kecil2 dah mental bisnis ya mb

  4. bayik 1 year ago

    Hehe kalau sekarang bikin perpustakaan digital mungkin ya 😀

Leave a Comment

Your email address will not be published.