Tak Berubah, Tapi Tak Lagi Sama

by on

Beberapa hari silam, seusai nongkrong bersama teman baik, seperti biasa saya nggak langsung pulang. Hobi saya memang ngider di jalan, dan seperti yang pernah saya posting sebelumnya, saya senang sekali mengitari kota malam-malam tanpa tujuan, mengendarai mobil sendirian.

Pun malam itu. Rasanya sudah lama saya nggak melalap jalanan waktu malam. Begitulah, dari Kuta saya menuju Sanur, dan tiba-tiba saya merasa aneh.

Saya nggak menemukan kenikmatan yang dahulu, tatkala saya berjalan tanpa arah tujuan.

Alih-alih, saya malah pengin cepat pulang, mendekam di kamar sambil berbalas pesan via bbm dengan kekasih saya.

Iya, begitulah ternyata. Hadirnya seseorang yang punya arti dan tempat khusus di hidup saya, ternyata berdampak pada keseharian tanpa saya duga.

Besok saya mau mencari kost baru, karena kantor baru dan kost lama jarak tempuhnya lumayan makan waktu, minimal 45 menit tanpa macet. Minggu lalu sih sudah beredar mengunjungi beberapa kost yang jadi kandidat. Tapi belum ada yang mantap di hati.

Dan tiba-tiba, lagi-lagi, saya memasukkan dia ke dalam salah satu faktor penentu dalam memilih. Tanpa setahu dia pastinya. (Lagian percuma nanya dia, wong dia nggak paham peta Bali pun.)

Iya, saya ingin tempat yang nyaman agar dia betah jika mengunjungi saya ke Bali, dan saya ingin tempat yang lokasinya strategis agar dia gampang kemana-mana, ke pantai misalnya, cukup dengan jalan kaki sehingga saya nggak perlu merasa bersalah bila meninggalkan dia selama saya bekerja.

Jadi begitu rasanya ya. Pantesan saya sering temui, teman saya yang baru menikah selalu saja menjawab “saya tanya istri / suami dulu ya” apabila mereka harus mengambil satu keputusan, beda dengan jaman mereka masih lajang.

Tak ada yang berubah. Saya tetap saya. Tapi tak lagi berasa sama.

And it feels good.

Kekasih saya minta maaf ketika saya lapor soal betapa saya nggak menikmati lagi raun-raun tengah malam tanpa tujuan. Nggak perlu minta maaf, sayang, karena sekarang kamulah tujuanku. (Oiya, motto kami adalah: “begitu dangdut sama dengan begitu membahagiakan”, jadi maafkan kalau kata-kata dangdut bertaburan setiap kami bicara tentang kami.)

You may also like

Leave a Comment

Your email address will not be published.