Tiga Perjumpaan Yang Menambah Warna Hidup Saya

by on

Bukannya suka mengenang masa lalu sih, tapi saya masih suka tersenyum apabila mengingat beberapa kejadian aneh yang sempat mampir di hidup saya.

Kali ini, tentang perjumpaan. Kecuali bila kita tinggal di hutan, pastinya setiap hari kita bertatap muka dengan banyak orang. Yang rutin, maupun yang insidental. Yang sengaja, maupun tidak sengaja. Yang cuma selintas dan lantas terlupakan, atau yang melekat di ingatan.

Beberapa perjumpaan saya dengan orang asing (dalam arti bukan teman sekantor, tidak disengaja, bukan rekayasa), misalnya:

1. Dini hari ditebengi cewek nggak jelas. Kejadiannya waktu Kamasutra masih eksis di Bali. Keluar dari klub itu bersama seorang teman lelaki, saya masuk ke mobil saya sementara teman saya naik motor. Tahu-tahu, ada sepasang cewek menghentikan motor di sisi mobil, dan yang ngebonceng minta ijin untuk numpang sampai perempatan Legian. Alasannya, gak pakai helm. Meski terkejut, saya persilakan dia naik mobil, dan temannya yang naik motor duluan jalan (dia pakai helm). Saya berpesan pada teman untuk mengawal saya di belakang. Sepanjang perjalanan singkat, si cewek ini lumayan banyak cerita, dan saya dengarkan sampai tiba di persimpangan dekat Legian. Dia turun, bergabung dengan temannya yang naik motor yang sudah menunggu, dan saya melanjutkan perjalanan sambil tersenyum-senyum sendiri.

2. Malam hari, ada dua cowok (satu lokal, satu bule) yang mengacungkan jari pertanda liften alias mau numpang. Berhubung saya lagi baik hati, saya berhentikan mobil dan mengangkut mereka yang ternyata menginap di satu hotel di Jalan Kartika Plaza. Ternyata mereka berasal dari Solo (yang lokal) dan si bule sedang magang atau apalah saya lupa. Saya tawarkan mereka apabila ingin menikmati Bali di waktu malam. Mereka setuju. Pada waktu yang kami sepakati, saya menjemput mereka di hotel dan kami meluncur ke Santa Fe. Ternyata si lokal itu sedang sekolah seminari. Jadi bahasanya alkitabiah sekali. Saya cuma senyam-senyum saja mendapat khotbah secara halus. Di Santa Fe, kentara bahwa mereka memang “anak baik-baik” yang jarang banget menikmati kehidupan malam. Band kesukaan saya mengalunkan musik classic rock, dan begitu si bule tahu bahwa kita bisa request lagu, duh, nggak henti-hentinya dia mengirimkan request sampai si penyanyi senyum-senyum saja memandang saya. Ahya, karena saya menghormati mereka, saya nggak mabokin mereka kok. Mereka cuma minum jus, saya nggak sampai hati untuk mencekoki dengan Beng-Beng minuman khas Santa Fe.

3. Di Jakarta, ketika saya sudah pegal menunggu taksi, berhentilah satu taksi putih yang menurunkan penumpang. Saya sabar menunggu, tapi sebelum saya masuk ke taksi, mendadak si penumpang yang baru turun itu membalikkan badan dan menyapa saya. “Mbak dari Jogja ‘kan?” sapanya. Saya tertegun dan mengangguk ragu. “Kita pernah bertemu di Jogja, tapi saya lupa di mana.” Nah loh, saya mulai garuk-garuk kepala secara imajiner, sambil tetap tersenyum mencoba menguras ingatan, di mana saya pernah bertemu ya. “Saya Widia, nama mbak siapa ya?” Doh. Saya mulai terbit curiga, ini Jakarta, hati-hati. Saya pun membalas,” Saya juga Widia. Widiastuti.” Saya nggak bohong ‘kan, itu memang nama belakang saya. Akhirnya setelah lewat tanya jawab untuk mengurai misteri hubungan antara kita, tersebutlah nama satu kafe di Jogja, dan dari situ terhubunglah ke satu teman yang menjadi penghubung antara saya dan Widia itu. Ya udah sih, begitu saja perjumpaannya, saya melanjutkan penungguan taksi (karena batal gara-gara dicolek mbak Widya ini), dan dia melanjutkan perjalanannya pulang.

Masih banyak pertemuan-pertemuan, baik yang berlanjut maupun yang terhenti begitu saja (seperti kisah nomor satu dan dua di atas), namun sayang apabila dihabiskan dalam satu posting.

Saya beruntung memiliki hidup yang kaya warna. Pertemuan-pertemuan dengan orang asing a.k.a. strangers, menambahkan warna dalam hidup saya, meski mungkin cuma senoktah saja.

Sebagai penutup, ini ada satu kutipan manis:

Every time you smile at a stranger, you make the world a better place. Click To Tweet

Awalnya adalah senyum, lantas keterbukaan hati untuk menerima si asing, dan benar, dunia akan menjadi lebih baik.

You may also like

2 Comments
  1. Iin Sari 1 year ago

    Orang baik memang ditaldirkan ketemu org baik juga hehehe

  2. bayik 1 year ago

    Kekekekek gua mah iblis jeung… dihadirkan untuk mendampingi orang baik kayak elu biar balance hahahaha.

Leave a Comment

Your email address will not be published.