Wayback Machine: Delapan Hari Mencicipi Kamboja-Vietnam di Tahun 2012

by on

 

Malam ini sebenarnya saya mau menulis satu posting baru, tapi gara-gara terlalu lama berselancar di dunia maya, saya jadi tertumbuk pada satu tulisan saya di blog lama yang sudah almarhum. Lalu saya terpikir untuk menampilkannya lagi di sini. Meskipun tulisan lama ini tentang perjalanan tahun 2012, tapi rasanya masih relevan untuk tahun 2017.

Oya, dulu saya menulis dengan kata ganti orang pertama “aku”, jadi saya biarkanlah tulisan ini apa adanya. Foto-foto sih puji Tuhan masih tersimpan di folder laptop, meski foto sederhana karena waktu itu cuma pakai kamera pocket (untung teman saya di Siem Reap seorang fotografer handal). Semoga bisa menjadi inspirasi bagi yang mau backpacker-an di Kamboja dan Vietnam. Enjoykanlah!

Delapan Hari Mencicipi Kamboja-Vietnam di Tahun 2012

Menjelang akhir tahun 2011. Mendadak terbersit keinginan untuk memberi hadiah untuk diri sendiri, bertepatan dengan ulangtahunku di bulan Februari 2012: sebuah perjalanan ke Kamboja. Mengapa Kamboja? Sederhana: ada seorang teman lama bermukim di Siem Reap, dan sejak dahulu kala aku berencana untuk mengunjunginya. Kamboja juga satu negara yang mengusik keingintahuanku karena Angkor Wat-nya. (Saat aku menjadi pemandu wisata dan membawa tamu ke Borobudur, hampir semua tamu membandingkan Borobudur dengan Angkor Wat, meski dua obyek ini sungguh jauh berbeda.)

Aku mulai melakukan riset kecil-kecilan. (Omong-omong, aku masih takjub bagaimana jaman dulu orang menyusun rencana perjalanan ya? Berbekal cerita orang dan berpegang pada buku semata? Internet sungguh membuat dunia dalam genggaman!) Kembali, satu ide baru menghampiri. Mengapa musti cuma ke Kamboja? Sayang amat. Mengapa nggak sempatkan mengunjungi si negara tetangga, Vietnam? Dan mengapa ke Vietnam kalau tidak mengunjung Ha Long Bay? Okay! Ha Long Bay is a must then.

Akhirnya tersusunlah rencana perjalanan sementara seperti ini:

Hari 1: Berangkat dari Jakarta Minggu pagi naik Malaysian Airlines, transit 2 jam di Kuala Lumpur.Siang tiba di Siem Reap langsung Temple Tour sebelum menemui teman lamaku
Hari 2: Temple Tour
Hari 3: Temple Tour
Hari 4: Free program, cabut ke Ho Chi Minh, menginap di Ho Chi Minh aka Saigon
Hari 5: Siang meninggalkan Ho Chi Minh, terbang dengan Vietnam Airlines menuju Hanoi, menginap di Hanoi
Hari 6: Pagi-pagi berangkat ke Ha Long Bay, menginap di junk boat di Ha Long Bay
Hari 7: Meninggalkan Ha Long Bay kembali ke Hanoi, menginap di Hanoi
Hari 8: Meninggalkan Hanoi setelah sarapan, terbang ke Singapore pakai Tiger Airways, transit 6 jam di Changi demi tiket murah ke Jakarta pakai Lion Air

Untuk perjalanan pribadi, aku bukan tipikal orang yang suka menyusun rencana perjalanan sedetil-detilnya sampai ke jam-jamnya. Itulah mengapa cukup aku cantumkan temple tour, misalnya, untuk hari kedua dan ketiga. Aku nggak mau terikat pada rencana. Terbukti, dengan rencana perjalanan general seperti ini terbuka ruang untuk berimprovisasi, mengubah rencana, menyesuaikan dengan keadaan, lebih fleksibel jadinya.

Ohya, perjalanan ini juga satu sejarah buatku, karena ini pertama kalinya aku keluar negeri seorang diri.

Tuktuk, kendaraan khas Kamboja
Tuktuk, kendaraan khas di Kamboja. Bisa juga temple tour naik tuktuk, kalau kuat diguncang jalanan dan diterpa debu

Beberapa catatan kecil yang akan selalu kuingat adalah:

1. Nggak perlu repot-repot meng-arrange tour dan guide di Kamboja dari awal. Kecuali saat peak season, atau memang kita sudah punya driver dan guide kesukaan kita. Karena aku tidak mau merepotkan temanku (bisa numpang menginap di apartementnya saja, aku sudah sangat berterima kasih), aku merancang semuanya berbekal hasil surfing sana-sini. Aku book seorang guide dan juga mobil, tanpa mengirim uang muka sesuai permintaan dia agar dibayar saat kita bertemu saja. Tahu apa yang terjadi? Guide itu tidak muncul menjemputku, pun tidak ada SMS darinya (baru aku tahu, dia mengirim email ke aku Minggu subuh, tapi saat itu aku sudah bertolak ke airport jadi aku tidak sempat membacanya). Satu jam aku menunggu, sebelum memutuskan akhirnya menyewa taksi dari airport saja. Akupun minta driver untuk mencarikan guide untuk tour di hari Senin. Jadi, kalaupun kita mencari mobil dan guide on the spot di airport, itu nggak akan jadi masalah.

2. Di Kamboja, cukup bawa USD, tanpa perlu menukarnya ke Cambodia Riels (KHR). Mata uang USD awam dipakai di Kamboja, apalagi ketika tahu kita adalah wisatawan. Meskipun terkadang bila ada kembalian pecahan, mereka mengembalikannya dalam bentuk KHR, tapi tetap kita akan susah memakai KHR itu. Lha terus, dikemanain uang lokal yang kita terima? Sumbangkan saja ke kotak-kotak amal yang ada di bandara.

Museum War Remnant HCMC
War Remnant Museum di Ho Chi Minh, Vietnam, 2012

3. Sebaliknya, di Vietnam lebih baik kita menukarkan USD ke mata uang lokal (VND atau Dong). Dong memudahkan kita untuk bertransaksi, juga menghindari kemungkinan salah terima kembalian. Umum bila kita membayar pakai USD, terima kembalian dalam Dong, tapi entah disengaja atau tidak, sering terjadi mereka salah memberi uang kembalian. Entah salah hitung, entah salah lihat angka yang ada di kertas mata uangnya. Dengan pedih aku harus mengaku: It happened to me once!

4. Enaknya punya itinerary fleksibel, aku bisa mengubah rencana perjalanan seketika. Atas saran temanku, lewat tengah malam hari ketiga kami menuju Phnom Penh, ibukota Kamboja dengan bis ber-AC yang butuh enam jam perjalanan dari Siem Reap. Lumayan, satu kota asing kembali aku rambah, meskipun cuma untuk beberapa jam. Siang harinya jam 1 aku menaiki bis (ber-AC, pasti) menuju Ho Chi Minh. Rencana semula aku naik pesawat dari Siem Reap langsung ke Ho Chi Minh, dan karena berubah rencana, aku malah berkesempatan mencicipi udara Phnom Penh, dan sempat mengunjungi The Royal Palace dan Russian Market.

Nginep di kapal kayak gini di Ha Long Bay. Lumayan mewah, kayak hotel bintang 4.

5. Satu kesalahan fatal, aku lalai memperhatikan faktor cuaca. Kamboja sih nggak jadi masalah, meski panas menyengat tapi tertahankan. Begitu juga Ho Chi Minh, masih terbilang lebih panas Bali. Tapi jangan salah, meski Hanoi sama-sama di Vietnam, cuacanya jauh beda dengan Ho Chi Minh (yaiyalah Bay, kayaknya elu doang yang nggak memperhatikan soal ini #self-toyor). Dinginnya nggak terbayangkan karena aku sama sekali tidak membawa baju tebal, lebih menderita lagi ketika di Halong Bay, gigi ini selalu bergemeletuk gara-gara suhu udara sekitar 12 derajat Celcius. (Ya harap dimaklumilah ya, aku kan belom pernah menjelajah sampai negeri-negeri bersalju.) Memang kalau diperhatikan di peta, kelihatan kalau Ho Chi Minh dan Hanoi itu terpisah jauh (dua jam penerbangan), dan Hanoi lebih mendekat ke Cina, jadi pertengahan Februari itu kata orang-orang Hanoi masih kebagian sisa musim dinginnya Cina.

Jadi, dalam delapan hari perjalanan aku bisa mengunjungi empat kota di dua negara. Aku puas, menjalani hari-hari tanpa tergesa.

 

Kalau dibandingkan dengan perjalanan saya ke Ho Chi Minh di tahun 2016, rasanya nggak banyak yang berubah. Kecuali ya, tahun 2012 situs macam WithLocals belum ada. Andalan saya VirtualTourist dan Lonely Planet.

Kalau tahun 2012 saya menikmati HCMC selintas pandang, di tahun 2016 saya puas beneran menikmatinya. Tahun 2012 saya masih jomblo ngenes, tahun 2016 saya bepergian dengan kekasih. Jelas bedalah ya! Anyway, kilas balik tahun 2012 ini membuat saya kepingin mengunjungi Ha Long Bay lagi, pastinya bersama kekasih, biar kalau kedinginan ada penghangat alami. Haha!

You may also like

Leave a Comment

Your email address will not be published.