A place called home

A Place Called Home ….

Suatu siang di Bali. Seorang mantan boss mengajak jumpa. Setelah ngobrol ngalor ngidul, dia bertanya, kalau mau bekerja, saya memilih based di Jakarta atau Bali?

Saya jawab, “Di mana saja tidak masalah bagi saya.”

“Nggak gitu. You must have a place called home. Kamu boleh pergi ke sana-sini, tapi tetap ada satu tempat untuk pulang. Untuk kamu sebut sebagai rumah.”

Perkataan itu menancap di ingatan saya.

Sebelum itu, ribuan kali kata “home” atau “rumah” mampir di keseharian.

Tapi tidak ada yang berarti sedalam ucapan mantan boss yang baik hatinya banget-banget itu.

A place called home ….

*****

Beberapa hari yang lalu, percakapan itu kembali melintas di benak saya.

Saya sedang dalam perjalanan entah ke mana, di tengah lalu lintas Kota Jogja yang makin padat saja.

Saya sedang gundah karena salah pilih kos (di tulisan mendatang akan saya jabarkan, kalau ingat). Dan saya merasa malas cari kos baru.

Mendadak saya merasa, saya tidak punya rumah.

Padahal dahulu kala, masa mahasiswa, saya sering berujar bahwa bumi ini adalah rumahku, dan setiap pejalan yang kutemui adalah saudara dan saudariku.

Baru kemarin itu, di atas ojol, di tengah Kota Jogja yang seharusnya sarat nostalgia namun yang ada hanyalah cerita-cerita lawas tak berasa, saya merasa asing.

Begini rasanya tidak punya rumah.

Bukan dalam bentuk fisik ya.

Namun rumah dalam konteks esensi. Sebuah tempat di mana kita selalu merasa diterima, merasa tak perlu berusaha apa-apa, merasa nyaman dan aman.

*****

Hampir delapan tahun kemarin, saya pikir saya sudah menemukan ‘rumah’ saya.

Satu tempat di mana tak ada rahasia. Well, kalaupun ada rahasia, ya tidak mengapa.

Saya tidak perlu jaim, tidak perlu malu-malu pun untuk berjoget tak tentu di depan televisi atau di mana saja, kapan saja.

Tempat yang membuat senyum saya terkembang hanya dengan memikirkannya, tak peduli sedang di mana saya saat itu.

Rumah itu sudah habis terbakar. Shit happens, that’s all. Saya juga tidak punya intensi untuk membangunnya. Biarkan saja puing-puing itu.

Jadinya saya mengembara, mencari tempat yang sekiranya bisa menggantikan rumah saya.

Menyenangkan sih, bertemu orang-orang baru, merasai tempat baru, mencicipi pengalaman baru.

Tapi ketika perasaan tidak berumah itu menyelinap, duh.

*****

Untungnya periode galau merasa-tak-berumah kemarin itu tak lama. Saya memang semakin pintar menata emosi dan energi. #shombong

Esoknya saya sudah kembali semangat seperti biasa.

Berjalan kaki menelusuri trotoar Jogja yang minim pedestrian.

Menyambut senyum bulan yang tipis yang mengingatkan saya pada si anak muda, entah apa kabarnya dia sekarang.

Saya belum menemukan rumah baru yang membuat hati ini ingin menetap dan berkata, “Yes! This is it!”

Tapi paling tidak, saya sudah tidak merasa sebagai orang asing lagi.

Mungkin dulu saya terlalu gegabah bilang kalau bumi ini adalah rumah saya.

Yang benar, bumi dan semesta ini rumah-Nya, dan saya cuma pejalan yang mampir ngombe.

Sesekali mampir ngeblog juga.

Sampai suatu kelak, Dia menganugerahi saya kunci rumah, agar saya bisa benar-benar punya rumah.


Posted

in

,

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *