Bali Kembali?

Kemacetan Bali di Petitenget
Kemacetan Bali di daerah Petitenget

Semalam, setelah seharian bersibuk-sibuk dengan urusan sendiri, saya memutuskan bergabung dengan anak-anak kost yang sedang reriungan di meja bundar. Meja yang sebenarnya tidak bundar itu terletak di halaman samping, dan menjadi ajang pertemuan bagi kami-kami penghuni kost untuk melewatkan waktu bersama.

Setelah sekian sloki arak dan limonchello, tiba-tiba muncul usulan, “Yok, lihat hantu yok! Pasti cantik-cantik dah jam segini.”

Hantu yang dimaksud bukan hantu beneran yah. Semalam, tanggal 30 Oktober, tepat malam minggu, jadi banyak event halloween di pusat perdugeman.

Jelang tengah malam kami cabs. Beriringan pakai motor, berasa kayak turis luar pulau aja dengan baju sehari-hari, tanpa dandan, tanpa pakai helm. Berasa muda dan merdeka.

Jalanan sudah tak sesepi Bali awal pandemi. Hari-hari belakangan ini, di beberapa titik lampu merah dan ruas jalan, kemacetan sudah mulai hadir.

Kami menuju daerah Petitenget. Seperti dugaan, ramai jalan dengan kemacetan di beberapa titik. Para “hantu” yang berdandan cantik lalu lalang, entah baru datang untuk masuk ke club, atau baru keluar dari club untuk pindah ke club selanjutnya.

Bali telah kembali?

Terlalu dini untuk berkata begitu. Ramai pengunjung dunia malam dan kemacetan yang didominasi mobil plat luar Bali, hanya terjadi di Petitenget dan Jalan Oberoi seputar La Favella. Ohya, dan juga Canggu – ini mah nggak pernah sepi selama pandemi pun.

Kami singgah di Bubur Ayam Bang Jo di Sunset Road. Dulunya tempat itu Babi Guling Malen sebelum babi guling yang hits itu pindah ke tempatnya sekarang yang lebih permanen.

Dan Bubur Ayam Bang Jo berpusat di dekat Pasar Kuta, sebelum buka cabang di Teuku Umar Denpasar dan Sunset Road Kerobokan ini. Apa ada cabang lainnya yang saya nggak ngeh? Bisa tinggalkan komentar ya.

Terkenang dulu setiap habis dugem, kami lari ke Bang Jo ini – kalau tidak ke Laota, yang sama-sama buka 24 jam. Kemarin, pengunjung-pengunjung selain kami berkostum halloween. Lumayan buat cuci mata.

Lepas dari Bang Jo, saya dan teman memisahkan diri, menelusuri jalan ke Dhyanapura. Cukup ramai meski tentu saja, keramaiannya tidak bisa dibandingkan dengan masa normal sebelum pandemi.

Kami ke Legian. Beda dengan Seminyak, Legian masih tampak sepi. Daerah ini memang dari dulu dikenal sebagai daerahnya para turis asing seperti turis Aussie. Jadi harap maklum kalau sekarang pun masih sepi, tidak seperti daerah lain yang mulai dibanjiri tamu domestik.

Beberapa klub sih buka dan ramai dengan musik berdentam.

Saya dan teman cukup ngakak terpana saja ketika lewat Bounty Club, dan musik yang membahana adalah dangdut koplo. Well, musik adalah selera, dan Bounty mungkin mengikuti pasar alias selera tamu-tamu yang masih berkunjung ke sana sekarang.

Saya terkenang setahun lampau ketika saya berkeliling Denpasar dan Badung malam hari saat pandemi tengah parah-parahnya.

Sekarang, sudah mulai ada kehidupan.

Pada suatu siang malah, saya merasa aura pekat yang selama ini menaungi Bali, mulai terangkat.

Seperti sebuah kota yang dibayang-bayangi Dementor, lalu Dementor hilang memberikan nafas baru pada kota itu.

Seperti sebuah pulau yang hujan badai berhari-hari, dan pada satu pagi, matahari terbit seiring terbitnya senyum para penduduk kota.

Seperti itulah Bali sekarang, meskipun – sekali lagi – belum waktunya untuk berkata Bali telah kembali.

Peraturan Pemerintah yang masih selalu berubah, bikin jantungan para hotelier. Penerapan PCR kembali untuk penumpang pesawat ke Bali, membuahkan ratusan cancellation di hotel tempat teman saya bekerja. Itu baru satu hotel ya.

Tapi paling tidak, ada harapan.

Meskipun tahun depan masih penuh perjuangan, bagi para pelaku pariwisata di Bali.

Kalau dari analisa kasar sih, hotel bintang lima dan luxury hotels masih tetap aman.

Yang mengkhawatirkan ya hotel-hotel budget yang tidak bisa lagi menurunkan harga, karena memang harganya sudah super murah.

Kita lihat saja tahun depan.

Nikmati dulu saja apa yang terjadi hari ini.

Diterbitkan
Dikategorikan dalam percikan

Oleh bayik

Pernah menjadi juara catur nasional senior wanita tahun 1992. Anjrit, udah lama bener itu yak!

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *