Kota Salatiga Dalam Kenangan

Puzzle Kota Salatiga Dalam Kenangan
Puzzle Kota Salatiga Dalam Kenangan

Ada beberapa kota yang punya makna dalam bagi saya. Salah satunya, Salatiga. Saya lahir dan besar di Semarang, namun Budhe, kakak tertua ibu saya, tinggal di Salatiga. Begitu pula beberapa om dan tante. Secara reguler, saya mengunjungi mereka, karena itu cukup banyak cerita tentang Salatiga yang mengendap di benak saya. Tulisan saya tentang Kota Salatiga dalam kenangan ini hanyalah kenangan acak yang masih tersisa di sudut-sudut ingatan. Semoga berkenan.

Tradisi malam tahun baru

Setiap malam tahun baru, kami sekeluarga dari Semarang selalu diantar Bapak ke Salatiga. Oya, Bapak dan Ibu beda agama, dan Bapak tidak pernah mengikuti kebaktian keluarga besar kami di Salatiga. Beliau cukup mengantarkan kami dengan mobil tuanya, lalu menjemput kami keesokan hari. Selalu begitu di akhir tahun, hingga kami sudah cukup besar untuk naik bus atau travel.

Seingat saya, tradisi melewatkan malam tahun baru di Kota Salatiga akhirnya luntur ketika kakak-kakak saya beranjak dewasa. Entah mengapa, kakak-kakak saya malas meneruskan tradisi itu. Jadilah hanya saya yang menemani ibu untuk ke Salatiga.

Hari-hari menjelang tahun baru adalah hari-hari yang menyenangkan. Pada saat Natal dan 1 Januari, kami sekeluarga besar pergi ke gereja. Keluarga Budhe termasuk yang terpandang di Salatiga, dan terkadang kami menyumbang koor keluarga di tengah kebaktian.

Pulang dari gereja adalah saat untuk makan enak. Om dan tante yang tinggal di rumah mereka masing-masing, ikut berkumpul di rumah Budhe, menjadikan suasana makin meriah.

Malam tahun baru, diisi dengan kebaktian dan doa bersama yang entah mengapa selalu membuat saya menangis. Doa bersama selalu bersamaan dengan pergantian tahun. Siapa yang tidak akan menangis, mendengar lantunan doa dengan latar belakang lonceng gereja dari kejauhan, dan terbungkus keheningan malam plus udara dingin yang membuat menggigil.

Saya mengenal pribadi-pribadi unik dari setiap om dan tante yang hadir. Om Sulis, yang tinggal di Lampung, merupakan pribadi yang nyentrik dengan rambut gondrong, rokok dan botol bir di tangan ketika melewatkan senja di teras. Saya, tentu saja, memilih minum kopi, sampai suatu saat Om Sulis menawarkan bir untuk saya coba. Sungguh Om yang supportive!

Setiap sore adalah rutinitas yang saya rasa tidak istimewa dan biasa terjadi di setiap keluarga besar. Para bapak dan om berkumpul di teras, ngopi atau ngebir, memperbincangkan entah apa. Para ibu dan tante berkumpul di dapur dan ruang makan, selalu saja ada kesibukan. Anak-anak yang sudah remaja bikin kegiatan masing-masing, dan anak-anak kecil berlarian dengan suara yang bikin bising.

Sungguh kebersamaan yang menyenangkan, ya.

Tradisi akhir pekan di Kota Salatiga

Lepas dari acara tahun baru, Ibu sering membawa saya ke Salatiga untuk berakhir pekan. Saya masih kecil waktu itu, tapi setelah saya cukup besar, saya rasa ada masalah di rumah yang membuat Ibu lebih senang menginap di Salatiga akhir pekan. Sampai sekarang saya tidak tahu masalah apa itu, saya rasa setiap pasangan selalu punya masalah dan periode ribut di kehidupan mereka. Yang jelas bapak dan ibu tetap bersatu hingga bapak meninggal dunia tahun 1991.

Jadilah, ketika frekuensi Ibu berakhir pekan menyurut – mungkin karena masalah di rumah sudah terselesaikan – saya tetap ketagihan untuk menginap di Salatiga. Mengapa tidak? Salatiga kota yang dingin (saat itu), jauh beda dengan Semarang yang panas tak keruan, apalagi rumah kami tidak ber-AC (tahun segitu ya, siapa yang mampu beli AC).

Dan rumah Budhe yang cukup luas di mata saya waktu itu, tentu saja menawarkan kenyamanan lebih dibanding rumah di Semarang yang padat populasi.

Di satu akhir pekan, saya berniat pergi ke Salatiga sendirian. Naik bus. Awalnya ibu memberi izin. Namun tiba-tiba, entah mengapa, izin itu dicabut. Alasannya, saya masih kecil. Ya, anak SMP untuk bilangan waktu itu memang masih terbilang masih kecil.

Saya ngamuk. Lari ke pohon jambu kesayangan saya, memanjat sampai dahan tertinggi, copot sepatu dan kaos kaki dan melemparkannya sambil ngamuk-ngamuk. Tantrum gitu. Tidak dipercaya itu rasanya sakit banget, lho.

Singkat cerita, akhirnya Ibu memperbolehkan saya pergi.

Dan saya baru tahu belakangan, ketika saya sudah turun dari bus di halte tujuan di Salatiga, seorang kakak saya ternyata membuntuti saya. Hanya untuk memastikan saya aman sampai tujuan. Dari halte itu dia langsung pulang, tanpa menemani saya sampai ke rumah Budhe, yang sudah biasa saya tempuh dengan jalan kaki.

Rumah Budhe dan kuburan

Rumah Budhe terletak tepat di samping kuburan. Kalau dipikir-pikir, rumah keluarga kami hampir selalu dekat dengan kuburan, lho. Rumah Semarang terletak di kaki bukit Bergota, kuburan terbesar di Semarang. Ibu bilang, rumah kakek juga dekat kuburan, dan beliau sering melihat pocong terbang.

Kuburan di samping rumah Budhe nggak gitu gede sih, tapi tetap saja seram di waktu malam. Apalagi saya penakut. Terkadang, saking takutnya saya bisa pindah tempat tidur dan ndusel om atau tante atau siapa saja yang bisa saya ndusel-in.

Saya nggak pernah melihat penampakan apa-apa sih, kecuali saat malam tahun baru. Kami dijemput Bapak lewat tengah malam, dan dari mobil yang berjalan meninggalkan rumah, saya melihat ada satu sosok yang berdiri di gerbang pemakaman. Saya merasa benar-benar bertatapan dengan makhluk itu, yang dalam benak anak kecil tampak seperti drakula dengan jubah panjang dan sorot mata tajamnya (seingat saya nggak ada taringnya sih). Saya juga nggak tahu itu penampakan benar atau halusinasi seorang bocah. Sampai sekarang saya nggak mau tahu juga.

Terkadang, tapi jarang banget, malam-malam saya dan Om menyaksikan kesibukan di kuburan. Mungkin itu orang yang harus dikubur malam ini juga, kata Om. Kadang terpikir oleh saya, siapa tahu mereka penganut ilmu hitam yang butuh kain kafan dari jenazah yang baru dikubur. Tapi ya, siapa yang tahu lah ya.

Kota Salatiga sendiri selalu membuat hati saya nyess tatkala mengenangnya. Dinginnya kota membuat saya senang berjalan kaki tanpa lelah. Hanya untuk jarak yang luar biasa jauh, kami naik becak.

Kota Salatiga dalam kenangan acak

Sering saya dan ponakan bermain-main di Kantor Perhutani dekat rumah Budhe. Gedung tua yang terawat baik itu tidak membuat kami takut, padahal di hari Sabtu dan Minggu, kompleks itu kosong karena para pegawai libur ya ‘kan. Rasanya seperti punya kastil sendiri. Bermain-main di lapangan rumput, mengumpulkan bunga cemara sampai jadi segunung (nggak tahu juga habis itu diapain), sudah memberikan kebahagiaan sederhana bagi si anak kecil.

Dan mengingat Salatiga takkan pernah lepas dari ingatan tentang Kejurnas 1988. Kejurnas pertama yang saya ikuti. Menginap di Wisma Kaloka yang konon angker. Bertemu cinta pertama saya – yang tetap jadi sahabat saya hingga kini.

Udara dingin Salatiga membuat makanan apa saja terasa nikmat. Apalagi wedang rondhe, ugh! Om Pras, yang paling dekat dengan saya, mengajarkan menemukan kebahagiaan yang sederhana lewat semangkuk wedang rondhe. Kalau nggak salah, waktu itu warungnya dekat Hotel Bringin.

Kota Salatiga menyumbang banyak hal dalam pembentukan pribadi saya. Rumah Budhe menjadi tujuan pertama setiap saya memberontak. Di sana, saya juga belajar berinteraksi dengan banyak orang, dimulai dari keluarga sendiri hingga para tetangga yang rajin menyapa. Banyak peristiwa yang terekam dalam ingatan – yang sayangnya nggak bisa saya ceritakan di sini.

Ketika saya kuliah di Jogja, otomatis frekuensi saya mengunjungi rumah Budhe, berkurang drastis. Apalagi setelah Budhe meninggal, meski saya sempat menemani Budhe di hari-hari terakhir beliau. Sampai akhir hayat beliau, rutinitas setiap sore tak pernah lepas. Dengan kebaya (ya, Budhe selalu berkebaya selama hidupnya), Budhe selalu melewatkan sore di teras, dengan secangkir teh hangat. Saya termasuk cucu (dianggap cucu padahal ponakan seharusnya) yang rajin menemani beliau. Saya teringat saat beliau sudah lupa wajah saya dan memanggil saya dengan nama anaknya. Tapi wajah tua yang berbinar melihat saya di samping beliau, sudah cukup, dan saya tak perlu membenarkan salah panggil itu.

Kota Salatiga, apa kabar kamu sekarang? Masihkah dingin, atau sudah menjadi seperti kota kebanyakan?

PS: Featured image diambil dari Pixabay. Next kalau saya menemukan foto di album keluarga, akan saya update di sini.

Diterbitkan
Dikategorikan dalam percikan

Oleh bayik

Pernah menjadi juara catur nasional senior wanita tahun 1992. Anjrit, udah lama bener itu yak!

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *