Laron-Laron Yang Teperdaya Cahaya

Dua mingguan yang lalu, saat saya pulang malam, jalanan penuh dengan keping-keping perak tertiup angin dan laju kendaraan. Seperti bulu-bulu tipis. Awalnya saya kira kapuk, dan saya sempat berpikir adakah pohon kapuk di seputar lingkungan yang saya lewati.

Di pengkolan jalan berikutnya dengan penerangan yang lebih jelas, ternyata yang beterbangan itu adalah laron. Seketika saya ngeh, wah musim hujan telah tiba.


Niatnya, malam itu saya mau langsung ngeblog seputar laron. Apa daya, niat doang.

Eh lha tadi di jalan pulang, kembali laron-laron menari-nari di bawah lampu jalan yang saya lewati.

Jadi teringatkan untuk ngeblog!

Saat saya melihat laron, ingatan yang pertama menghampiri selalu tentang saat pertama kali saya makan laron. Udah belasan tahun silam. Ceritanya waktu itu teman-teman dari Jogja bertandang ke rumah ibu di Semarang. Pas awal musim hujan. Laron-laron mengerubung lampu-lampu di rumah.

Teman saya bilang, “Wah enak nih digoreng.”

Berhubung saya waktu itu belum pernah merasakan enaknya laron, akhirnya saya minta dia untuk membuktikan ucapannya.

Jadilah. Dia pasang sebaskom air di bawah lampu. Pantulan cahaya di air, menarik perhatian laron-laron yang akhirnya mendekat dan terperangkap di air. Lemah iman banget ya laron ini, gampang terpikat cahaya.

Teman saya bikin telur dadar dengan laron sebagai isiannya. Ngirit ya, nggak ada sosis, laron pun jadilah.

Dan buat saya, ternyata, beneran enak. Meski pas gigi mengunyah laron itu terdengar suara krenyes-krenyes, bikin agak gimana gitu karena sempat terbayang penampakan si laron semasa hidup, tapi saya tetap aja lahap. Uwenak tenan kok.

Kata Ibu, laron salah satu sumber pemenuhan gizi manusia jaman dulu. Iya, memang laron (dan banyak serangga lainnya) memiliki kadar protein yang tinggi.


Kalau kalian cari di internet, banyak banget informasi menarik seputar laron. Misalnya, laron harus cari jodoh dalam semalam. Kalau tetap jomblo sampai 24 jam, matilah dia. Untung manusia nggak kayak laron ya, jadi bisa jomblo menahun asalkan kuat menderita aja.

Tapi dasar saya manusia lawas, selain soal rempeyek laron di atas, saat melihat laron saya jadi teringat lagu Makara Band yang judulnya “Laron-Laron”.

Kalian tahu lagunya? Kalau iya, toss dulu, kita sejaman!

Lirik lagu yang dinyanyikan vokalis Harry Moekti (almarhum) seperti sudah lekat di ingatan saya. Sebuah cerita pendek tentang manusia yang seperti laron, tertarik juga pada cahaya. Manusia di lagu ini diceritakan berduyun-duyun mendatangi kota-kota besar yang gemerlap memikat.

Memang tidak semua yang berduyun-duyun ke kota berakhir dengan kegagalan dan kekecewaan seperti lagu “Laron-Laron” itu.

Tapi kalau kita mau jujur, kita memang sering teperdaya seperti laron, ya ‘kan?

Mudah terpikat dengan yang gemerlap, padahal bisa jadi itu mematikan.

Mudah tergiur dengan yang mewah-mewah, padahal nggak ada kemewahan juga kita bisa hidup panjang dan bahagia.

Jangan salah sangka, seperti saya bilang di atas, belum tentu semua kita berakhir dengan tragis seperti nasib laron yang terpikat cahaya baskom air trus mendekat terus terperangkap terus jadi rempeyek deh.

Hanya saja, nggak ada salahnya kita waspada.

Kalau kata orang pinter, “Not all glitters are gold.”

Tidak semua yang berkilauan itu emas. Banyak juga yang adalah loyang.


Eniwei, kasihan juga ya si laron ini. Niatnya mencari kehangatan, dituntun oleh insting menuju cahaya, bukannya dapat pencerahan malah terperangkap (kecuali mereka yang dapat jodoh, mereka akan hidup bahagia dan membangun kerajaan dengan setia pada satu ratu laron).

Tapi buat laron jomblo yang cuma hidup semalam, kasihan deh lu.

Dan kita manusia, kita bukan laron yang dituntun insting semata.

Kita punya akal budi yang bisa menuntun kita ke cahaya yang sesungguhnya.


Sebagai penutup, silakan dinikmati “Laron-Laron” dari Makara Band. Liriknya sebagai berikut, siapa tahu ada yang mau latihan buat karaoke.

LARON-LARON (MAKARA BAND)

Secercah cahaya dalam kegelapan
Dian menyala dan membagi terang
Laron-laron terpesona datang menghampiri
Namun hangus dalam nyala api dia yang panas membara
Oh oh wo woh….

Namun dian tetap indah dan menyala megah
Beribu laron datang lagi dan kembali musnah
Tiada sadar bahaya dibalik keindahan
Berselubung berjuta kehangatan dan kenikmatan dunia
Wo hoo wo ho…
Wo wo wo ho….

Reff :
Apakah engkau juga laron yang terpedaya
Apakah engkau ingin jadi laron tertipu

Laron-laron desa berduyun-duyun ke kota
Menuju gemerlap lampu-lampu yang indah
Dengan harapan dan impian tentang nirwana
Namun apa yang ditemui hanyalah sejuta kecewa

Wo ho wo ho… 2x

Dan ini lagunya. Enjoykanlah!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *