Review Buku Rework

“Meetings Are Toxic” dan Pelajaran-Pelajaran Lain dari Buku “REWORK”

Gara-gara seminggu lalu saya dan pacar bersih-bersih rumah (istilah kerennya: spring cleaning – padahal nggak ada spring di Indonesia, I know), saya menemukan satu buku lawas favorit saya. Judulnya, REWORK. Seorang teman menghadiahkan buku ini pada tahun 2012. Saat itu saya sedang berada di bawah naungan GONLA, dan apa yang tercantum dalam REWORK sangat membekas dalam ingatan saya. Soalnya relatable banget gitu kalau kata anak Jaksel.

REWORK ditulis oleh Jason Fried dan David Hansson. Mereka berdua adalah founder 37signals (yang kemudian di tahun 2014 menjadi Basecamp), sebuah software untuk project management dan team communication. Satu hal yang menarik bagi saya, REWORK adalah by-product alias produk sampingan dari perjalanan bisnis mereka, karena apa yang mereka pelajari selama membangun bisnis sedari awal tertuang dalam bentuk buku ini. (Produk utamanya ya tentu saja si software project management itu sendiri.)


Mengapa REWORK menjadi buku favorit saya?

Buah pemikiran penulis disampaikan dengan ringkas dan gamblang dalam 14 bab dengan hanya 280 halaman. Setiap bab membahas satu topik tanpa panjang kali lebar kali tinggi. Cukup satu atau dua halaman, jarang yang tiga halaman, untuk setiap topik! Itu membuat saya merasa nyaman membaca buku ini, karena dengan cepat bisa melahap poin demi poin.

REWORK membahas semua aspek dari sebuah perjalanan bisnis. Tentang perencanaan, perkembangan, produktifitas, kompetitor, rekruitmen, kultur perusahaan, juga tentang damage control. Semua dibahas secara ringkas dan tepat sasaran.

Dari 88 bahasan, saya tuliskan 8 poin penting yang sudah melekat di ingatan saya. Enjoykanlah!

Start making something

Ini tentang pentingnya eksekusi. Berpuluh kali saya dan banyak teman berbincang tentang satu ide, dan beberapa hari kemudian (atau satu-dua tahun kemudian) muncul berita tentang rilisnya sebuah aplikasi yang sedikit banyak mirip dengan ide kami. Itulah bedanya kami (yang hanya mengumbar ide tapi malas mengeksekusi dan menjadikannya nyata) dengan mereka yang nggak sekedar bicara tapi juga bekerja sampai ide mereka menjadi sebuah produk yang nyata.

No time is no excuse

Pasti sering dengar alasan, “Duh, aku nggak punya waktu untuk itu.” Itu bukan excuse atau alasan yang tepat. Selalu ada waktu selama kita mau meluangkannya. Daripada nonton televisi semalaman, kerjakan ide kita. Daripada nongkrong hanya untuk berghibah, mending kerjakan ide kita. Dan selanjutnya, dan seterusnya.

Seperti halnya relationship, entah dengan pacar atau kawan baik. Jangan percaya kalau ada yang menolak bertemu dengan kita dengan alasan “aku sibuk nggak ada waktu”. Alasan sebenarnya adalah kita bukan prioritas bagi mereka, jadi mereka nggak mau meluangkan waktu buat kita. Kalau kita adalah prioritas atau punya arti bagi mereka, pasti mereka akan sempatkan bertemu entah besok atau minggu depan atau bulan depan. Paham? (Ini bukan curcol, suwer!)

Build half a product, not a half-assed product

Pas banget nih buat mereka yang banyak keinginan dan berambisi mewujudkannya serta merta dan seketika. Yang ada, produk jadi hancur berantakan. Berhasil rilis dan kaya fitur, tapi bugs di mana-mana. Itu namanya half-assed product.

Daripada memaksakan diri untuk membangun seribu candi (ingat, kita bukan Bandung Bondowoso), mengapa tidak fokus saja membuat satu rumah yang nyaman. Ketika kita punya waktu dan lebih banyak dana (dapat lotere, misalnya) dan kita juga lebih mahir dalam membangun rumah, kita bisa kembangkan rumah kita menjadi istana.

Tapi kalau sudah tahu di awal bahwa waktu terbatas, tenaga kurang, duit nggak ada, dan masih saja ingin membangun istana, okesip! Berani taruhan, kalaupun terwujud istana, itu adalah istana yang mungkin terlihat megah di luar tapi digerogoti rayap dari dalam.

Interruption is the enemy of productivity

Yang namanya interupsi itu jarang yang mengenakkan. (Nggak tahu juga sih kalau coitus interruptus, nggak punya pengalaman soalnya.) Sedang asik-asiknya mengerjakan laporan, ada telepon dari vendor yang harus diterima. Selesai leleponan, mengerjakan laporan lagi dengan butuh waktu sejenak merunut tadi terputus sampai di mana ya, eeh nggak lama kemudian si boss memanggil meeting dadakan. Balik ke meja, ada kasus yang harus diselesaikan saat itu juga. Sampai malam, laporan nggak juga kelar, tubuh sudah capek, besoknya boss marah-marah karena laporan belum juga ada di mejanya. Lah yang kemarin manggil saya meeting dadakan ngabisin waktu saya sesiangan sampai saya nggak sempat ngerjain laporan, siapa tuh boss, paling cuma bisa menggerundel gitu aja.

Pintar-pintarlah mengatur agar interupsi bisa mental tanpa sempat mengganggu kerjaan yang sudah kita niatkan. Jika minim interupsi, produktivitas dijamin meningkat.

Meetings are toxic

Seperti saya sebut sepintas di atas, interupsi bisa berupa ajakan meeting dadakan. Dan ini paling menyebalkan. Mengapa? Namanya juga dadakan. Nggak ada persiapan. Nggak ada bayangan bakalan bahas apa. Lagi mikirin report, disuruh ikut meeting mikirin nasib bangsa dan negara. Otak ini bakalan cepat capek kalau diminta switch seketika. Yang ada malahan bengong di meeting. Nggak fokus meeting karena membayangkan tumpukan kerjaan yang seharusnya bisa diselesaikan seandainya meeting dadakan ini nggak digoreng bulat-bulat.

Bukan berarti kita nggak perlu meeting ya. Pasti perlu dong, kalau nggak, gimana kita bisa tahu perkembangan projek dan update kerja satu tim, misalnya. But please, buatlah meeting yang produktif dan hindari meeting yang toxic alias jadi racun produtivitas. Caranya? Rencanakan meeting sebelumnya. Jangan bertele-tele dalam pembahasan. Undang partisipan sesedikit mungkin, biar fokus pada bahasan. Akhiri meeting dengan solusi, bukan dengan banting kursi.

Say no by default

Sebagai project dan product manager, saya kerap berurusan dengan berbagai permintaan dari klien maupun user. Minta fitur ini, minta fitur itu. Aku ingin begini, aku ingin begitu. Ingin ini itu banyak sekaliiiii.

Padahal, permintaan fitur ini itu belum tentu semua berguna. Klien tentu saja menganggap mereka perlu fitur itu. Anggapan mereka belum tentu benar. Klien hanya melihat dari satu sisi saja, berbeda dengan kita di tim project dan product yang mempertimbangkan kebutuhan semua pengguna dan ketersinggungan antara satu fitur dengan fitur lainnya.

Selalu bilang “iya” pada keinginan klien, akhirnya akan menjerumuskan kita pada kebingungan. Produk yang kita impikan, bisa jadi berantakan. Jadi, jangan segan untuk berkata “tidak”, bukan hanya pada korupsi, tapi juga pada keinginan klien yang berlebihan.

Hire when it hurts

Membahas tentang hal ini selalu membawa saya ke masa lalu saat bergabung dengan sebuah startup. Tim awal kami, nggak tanggung-tanggung, lebih dari 10 orang. Wow banget ya? Di awal, tim sudah lengkap dengan tim business development, programmer dan developer, content writer, web designer, general assistant dan finance. Itu masih ditambah dua orang bule sebagai petinggi alias CEO dan CSO. Keren ya?

Dulu saya pikir itu keren. Tapi alis saya menaik ketika beberapa bulan kemudian, tim kami bertambah lagi 7 orang, untuk operation. Hmmm. Produk masih dalam pengembangan, sudah ada tim operation. Apa yang mau dioperasikan, coba? Sungguh mubazir.

Bisa ditebak, bagaimana nasib startup tersebut. Beban biaya semakin berat, sementara revenue masih nol karena ya gimana ya, produknya aja belum dirilis ke pasaran.

Jadi ingatlah. Hire when it hurts. Jangan mempekerjakan orang untuk ‘kesenangan’ atau apalah alasannya. Pekerjakan orang pada saat yang tepat, saat pekerjaan sudah menumpuk dan tak bisa lagi diselesaikan oleh staf yang ada. Rekrut staf baru saat staf lama mulai keteteran menangani tugasnya. Tidak boleh ada alasan lain untuk mempekerjakan staf baru.

They are not 13

Ini pesan penting buat para manajer maupun pemilik perusahaan. Staf kalian itu bukan anak kecil. Mereka punya kapabilitas (ya kalau nggak, ngapain lu terima kerja di perusahaan lu?). Mereka tahu apa yang harus dikerjakan. Percayalah bahwa mereka mampu.

When everything constantly needs approval, you create a culture of nonthinkers. You create a boss-versus-worker relationship that screams, “I don’t trust you.”

(“Rework”, Jason Fried & David Hansson)

Wahai para boss, karyawan Anda bisa berpikir. Ngapain you gaji orang kalau yang mikir lagi-lagi you? Dukung karyawan Anda, percayalah mereka akan berbuat yang terbaik bagi perusahaan dan bagi Anda. Sekali lagi: percayalah. Karena kalau sudah tidak ada rasa percaya, hubungan kalian sebagai karyawan dan atasan, sudah pasti bukan hubungan yang sehat.

*****

Dalam bab Introduction, Jason & David berkisah tentang awal perjalanan mereka di dunia bisnis. Mereka mulai di tahun 1999 dengan tiga orang. Tiga orang, bayangkan! Tahun 2004, mereka merasa nggak puas dengan software project management yang mereka pakai, lalu mereka bikin sendiri. Lahirlah Basecamp, yang lima tahun setelah itu digunakan oleh lebih dari 3 juta orang dan menghasilkan keuntungan jutaan dolar per tahun. (Catat ya: keuntungan! Bukan revenue ataupun omset.)

Setiap bab dan setiap topik yang ada di dalam buku REWORK ini adalah kristalisasi pengalaman Jason & David. Cara mereka mensimplifikasi banyak hal mungkin terlihat aneh dan kurang disetujui oleh pebisnis yang terbiasa berpikir konvensional. Gapapa, berarti buku ini bukan untuk kalian, ok boomer!

Setiap kali saya merasa capek dalam menjalani peran sebagai orang product & project, saya melakukan relaksasi dengan membaca buku ini. Biasanya, capek saya hilang. Kekusutan pikiran mulai bisa tercerahkan. Semangat yang melempem, bisa kembali berpijar. Bisa dibilang, REWORK ini semacam kitab suci bagi saya dalam menjalani dunia kerja.

Kalau kalian, buku apa yang menjadi kiblat dan pegangan dalam perjalanan bisnis dan karir kalian?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *