percikan, sehari-hari

Plus Minus Tinggal di Kalibata City

bayik / December 26, 2015
Pemandangan di Kalibata City

Pemandangan di Kalibata City

Saat mau pindah ke Jakarta, semua yang bertanya,”Tinggal di mana?” jadi bergidik mendengar jawaban saya. Hehe, ya nggak bergidik banget sih, tapi nyaris nggak ada yang setuju ketika saya jawab,”Mungkin di Kalibata sih.” Rata-rata bilang: kawasan macet, kumuh, nggak aman, jauh dari mana-mana. Sementara pertimbangan saya dan kekasih, karena tempat kerja kami berbeda, kami ambil yang di tengah-tengahnya saja. Dan sewa apartemen di Kalibata City rasanya jadi pilihan yang tepat.

Soal macet, ya, Jakarta mana sih yang nggak kena macet? Nggak aman? Lagi-lagi, Jakarta mana sih yang aman sepenuhnya? Tergantung dari kita menjaga diri dan amal ibadah biar selalu dilindungi Tuhan Yang Mahabesar. Jauh dari mana-mana? Hmm, tergantung lagi, keperluan kita apa? Kalau saya dan kekasih sih nggak perlu nge-mall tiap minggu, jadi konsep “jauh dari mana-mana” sih nggak kebayang oleh kami. Kumuh? Ah, masa’ sih kumuh, bukannya ada cleaning service yang disediakan oleh pengelola? Soal penghuni yang aneh-aneh macam drug dealers, prostitusi terselubung, ah sudahlah, macam gitu di mana saja juga ada, tinggal kita saja yang pintar jaga diri.

Akhirnya kami mantap menetapkan pilihan: Kalibata City! Sewa, pastinya, belum bisa beli sendiri. Tapi masih bersyukur ‘kan, kami mampu sewa apartemen pakai duit sendiri, nggak perlu nyari om-om buat menanggung uang sewa tempat tinggal kami.

Sampai saat ini, kami belum menyesal sih tinggal di Kalibata City. Berikut alasan kami, siapa tahu ada yang butuh pertimbangan mencari tempat tinggal yang tepat di Jakarta Selatan:

1. Harga sewa reasonable.
Ya kalau dibandingkan dengan apartemen macam Rasuna, Sudirman Park dan sejenisnya, jelas sewa apartemen di Kalibata paling murah. Memang sih, kompleks ini sebenarnya bukan apartemen untuk kalangan atas, tapi sejatinya diperuntukkan untuk kalangan menengah bawah, dan disebutnya Rusunami (Rumah Susun Sederhana Milik – milik siapa jangan tanya pada saya, emang gitu kepanjangan dari Rusunami).

2. Dekat dengan stasiun.
Iya, tinggal koprol aja sampai deh di Stasiun Duren Kalibata. Dari sana, mau ke Pasar Minggu sampai Depok atau Bogor, tinggal sekali naik kereta. Mau ke Jakarta Kota atau Sudirman, juga bisa.

3. Fasilitas lengkap.
Ada Farmers Market andalan kami untuk belanja bulanan, laundry bertebaran di mana-mana, tempat makan jangan ditanya mau masakan apa aja ada, termasuk lapo favorit kami. Mau karaoke, ada Diva Karaoke. Mau ngopi, ada Starbucks. Mau nge-gym, ada Gold Gym juga yang baru buka tahun 2015 ini. Kalau belum cukup, bisa keluar komplek nyebrang rel sampailah di Kalibata Mall alias Plaza Kalibata. Di sana lengkap ada Giant sampai XXI.

4. Hidup simple nggak pakai ribet.
Kalau ngontrak rumah, urusan dengan RT/RW sampai Kelurahan dan seterusnya bisa bikin pusing. Atau kalau ada kerusakan di rumah, biasanya harus ditanggulangi sendiri. Kalau sewa apartemen, tinggal mengadu saja ke yang empunya biar beliau yang menindaklanjuti. Nggak pakai ribet dengan RT/RW, dan buat kami yang males berhaha-hihi dengan tetangga, enak deh karena jarang ketemu tetangga, paling-paling kalau ngantri lift bareng dan senyum pun udah cukup.

5. Sekuriti lumayan terjamin.

Banyak berita heboh tentang Kalibata City, mulai dari tindak kriminal pembunuhan sampai pelecehan seksual. Tapi gimana ya, ini ‘kan Jakarta. Di apartemen yang mewah pun, sering ditemukan kisah tragis nan mengerikan. Waktu saya tinggal di Rasuna tahun 2013, selama lima bulan di sana sudah 2 x kisah tragis yang terjadi. Balik ke sekuriti di Kalibata City, selama ini sih kami nyaman saja, karena sekuriti di tower kami cukup helpful dan ramah.

6. Nggak kumuh kok!
Cleaning service rajin menyapu, mengepel, mengambil sampah tanpa pernah terlewat, sampai rutin ngelap lift. Kadang ya ada tetangga yang nggak tahu diri, yang menaruh kantong sampah di depan pintunya, padahal tinggal jalan dikit ke ruang sampah lho! Tapi so far sih, kebersihan di lantai kami tinggal jauh dari kata kumuh.

7. Bebas banjir.
Hehehe, ya nggak mungkinlah kalau banjir sampai lantai 9 tempat kami tinggal. Kalau di sekitar Kalibata City, ya sedikit-dikit air menggenang tapi belum ngalamin musim hujan sih. Mudah-mudahan saja tetap aman, kalaupun banjir di kawasan ya kerja dari rumah karena kami sudah pasang internet kabel murah meriah hanya Rp. 278,000 sebulan termasuk pajak dan unlimited. #shombong

Nah, kalau nggak enaknya, pasti ada. Berikut daftar hal yang mungkin bisa jadi penyeimbang hal-hal menyenangkan di atas (kalau positif semua, jadi nggak balance ‘kan hidup ini?):

1. Ruang tinggal yang terbatas.
Atau kata lainnya: sempit. Well, sebenarnya kembali ke masing-masing sih. Kalau buat saya, 2-Bedroom dengan luas 33-35 sqm mah sudah lebih dari cukup. Lha biasa ngekost kamar ukuran 3 x 3 m2 hahaha.

2. Balkon sempit.
Nah kalau ini, agak mengganggu sih. Karena balkon yang seuplik ini cuma cukup buat naruh AC dan jemuran dikit. Terpaksa, laundry aja deh daripada nyuci sendiri. Untungnya ya laundry bertebaran di mana-mana, dan ada coin laundry jadi untuk baju-baju sensitif yang butuh penangan personal, ya mending pakai coin laundry aja.

3. Lift yang kadang rusak.
Nggak sering-sering banget sih, dan belum pernah kejadian semua lift di tower kami rusak pada saat yang bersamaan.

4. Drama rumah tetangga.
Untungnya di lantai kami lumayan tenteram sih, selama 7 bulan tinggal, cuma sekali ada drama, tetangga teriak-teriak karena nggak dibukakan pintu. Kami sih ndekem di kamar saja, nggak ikut-ikut dah, paling-paling kalau berlarut-larut ya usaha panggil sekuriti aja.

5. Parkir terbatas banget.
Kalau ini, sudah terkenal, kawasan Kalibata City ribet banget soal parkir. Bisa sejam ngiderin kawasan buat nyari tempat parkir lowong. Solusinya simpel aja: nggak usah punya mobil. Ya toh. Pakai taksi, Uber, GrabCar, GrabBike, Go-Jek, ojek pangkalan, sudah cukup.

6. Kalau ada paket, ditaruh di pos sekuriti dan kadang tidak terdeteksi.
Kalau kita sudah paham bakal ada kiriman datang, ya tinggal tanya ke sekuriti paket atau surat sudah datang belum. Yang fatal kayak kemaren tuh, ada teman lama kirim paket tanpa bilang-bilang, setelah sekian hari baru itu paket nyampe ke saya, gara-garanya pas kekasih ngecek paket lantas sekuriti yang sudah hapal tampang kami bilang ada paket juga buat saya. Yang lebih fatal kayak PIN Google Adsense yang sampai sekarang belum saya terima, lha saya nggak tahu bakal kapan itu surat nyampe, jadi yowis saya relakan saja, mungkin nanti minta PIN ke Google pakai KTP aja. (Lho kok malah curhat.) Eh tapi, terkadang dapat sekuriti yang menyenangkan lho, kalau ada paket atau surat, beliau SMS jadi kita bisa segera ambil di pos.

Dari sekian banyak hal di atas, ada nggak yang terlewat? Mungkin saja kalian punya pengalaman senada, silakan urun komentar ya!

Bagi saya pribadi, saya masih menikmati tinggal di Kalibata City. Tinggal di mana saja, sama rasanya. Saya pernah tinggal di kost ratusan ribu sampai dua jutaan, tinggal di apartemen ala Rasuna, tinggal (sendirian) di rumah mewah dengan kolam renang, dan semuanya itu membawa saya pada simpulan: saya bisa tinggal di tempat semewah apapun, namun kebahagiaan jauh dari jangkauan. Sebaliknya, saya bisa tinggal di tempat sesederhana apapun, dengan kebahagiaan terasa hangat di genggaman.

Ada “Amen”, saudara-saudara?

 Update 14 April 2017: ACE Hardward bakalan segera hadir di Kalibata City, begitu juga Imperial Kitchen & Dimsum. Watsons sudah buka toko, dan kabarnya bakal ada sinema 4 teater loh! Tambah nyaman aja kan, serasa nggak perlu kemana-mana lagi. 

Loading comments...