Work from Bali: Untung Apa Buntung?

Kerja di pantai, work from Bali
Kerja di pantai, work from Bali

Hari-hari terakhir ini, terutama di media massa dan media sosial, ramai orang berbincang tentang “work from Bali”. Frasa ini melengkapi frasa yang sebelumnya populer banget di masa pandemi, yaitu “work from home” dan “work from office”.

Ide “work from Bali” (WFB) ini sebenarnya digaungkan sejak akhir Mei 2021. WFB diinisiasi oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan untuk memulihkan pariwisata Bali yang terpuruk akibat pandemi Covid-19. Seperti tulisan saya sebelum ini, ekonomi Bali 70% bergantung pada sektor pariwisata, dan pertumbuhan ekonomi year on year minus 9,3 persen.

Pada intinya, Mister Luhut ingin mengirim 25% ASN (Aparatur Sipil Negara) di tujuh kementerian yang berada di bawah komando beliau, untuk bekerja dari Bali.

Dan seperti biasa, langkah pemerintah – apapun itu – pasti mengundang pro dan kontra. Apalagi netijen Indonesia terkenal pintar-pintar terutama dalam hal berkomentar.

Pro dan kontra soal work from Bali

Di Twitter, misalnya, seliweran antara yang pro dan kontra perkara WFB ini.

Seperti pendapat Mr. Haye yang saya kutip di sini tanpa izin. (Kalau mau di-remove, bilang aja ya.)

Work from Bali

Well, semua kita merasakan kok, betapa ketergantungan 70% pada pariwisata itu menjadi bumerang di masa pandemi seperti ini. Dan nggak cuma Bali, destinasi seperti Phuket, Pattaya dan destinasi wisata lainnya pun mengalami hal yang serupa.

Cuma ya kalau mau menggairahkan potensi perekonomian lokal sekarang, bisa dibilang terlambat. Mustinya dari awal pandemi, pemerintah daerah Bali sudah bergerak membuat terobosan.

Sekarang Bali nyaris sekarat. Butuh injeksi yang meskipun sifatnya instan, bisa membuat Bali bernafas lebih lama lagi, bertahan lebih lama lagi sampai badai pandemi ini berakhir.

Ada lagi yang nyeletuk di Twitter, “Ah, WFB mah menguntungkan hotel-hotel bintang 4 ke atas aja.”

Bisa jadi benar, bisa jadi nggak. Cuma ya perlu kita ingat, pekerja-pekerja hotel bintang 4 ke atas itu juga manusia. Mereka juga perlu makan, perlu bayar cicilan. Lu pikir selama pandemi ini, pekerja hotel berbintang nggak menderita? Yang digaji 0% tapi kudu tetap kerja agar hotel tetap bisa terima tamu, juga ada, cuy. Yang kerja keras agar kamar tetap terjual karena owner sudah ‘lepas tangan’ dan menyerahkan hidup matinya pada karyawannya, ada juga!

Jadi nggak usah sentimen hanya karena hotel bintang 4 ke atas yang bakal terima manfaat program work from Bali ini. Apalagi asumsi ini belum tentu benar.

Pemerintah pastinya berharap ada multiplier effect atau trickle down effect dengan diboyongnya ASN untuk bekerja di Bali. Mereka nggak melulu kerja ‘kan. Malam hari bisa jadi mereka beredar ke luar hotel, makan di warung dan restoran setempat. Akhir pekan bisa meluncur ke pantai dan tempat wisata lainnya.

Dan diharapkan ekonomi Bali bisa mulai berputar.

Dan lagi, tren work from Bali yang semula ditujukan buat ASN, saya lihat mulai menular ke para pekerja non ASN. Lihat saja di Twitter. Banyak anak muda pun anak kuliahan yang pengin kerja atau kuliah (online) dari Bali.

Sebenarnya tren WFB ini untuk para pekerja lepas sudah dimulai sejak kapan. Simak thread mbak @fmkinanti, anak Jakarta yang sudah 6 bulan tinggal di Canggu. Tempat makan enak dan murah di Canggu, check! (Disclaimer: “murah” itu relatif ya, tapi kalau dibandingkan dengan Jakarta, ya masih bisalah makan di Bali terbilang murah.)

Bagaimana dengan angka penularan coronavirus di Bali?

Isu utama yang sebenarnya harus dicermati adalah masalah coronavirus itu sendiri. Apakah dengan berduyun-duyun ASN datang ke Bali, mereka bisa dijamin tidak membuat angka penularan Bali kembali tinggi?

Saat tulisan ini dibuat, angka penambahan kasus baru COVID-19 di Bali terbilang rendah. Hari-hari terakhir ini bisa di bawah 50 kasus baru. Jangan sampai, kedatangan para pekerja untuk bekerja dari Bali, membuat angka penularan ini meninggi.

Kekhawatiran di atas sebenarnya bisa ditangkal. Bulan Juni ini, kita berharap target 70% masyarakat Bali yang sudah menerima vaksin, akan tercapai.

Penerapan CHSE (Cleanliness, Health, Safety, dan Environment Sustainability) di Bali pun cukup ketat. Para pekerja pariwisata paham betul bahwa CHSE adalah kunci. Saya merinding melihat semangat para pekerja pariwisata di Bali, yang tidak memikirkan diri sendiri, tapi juga menyemangati semua teman, saudara, kenalan, agar patuh CHSE baik di tempat kerja maupun di lingkungan masing-masing.

Gerakan WFB juga menjadi ujian, apakah Bali benar-benar siap untuk dibuka sebagai destinasi wisata. Jangan sampai WFB membuat Bali merah kembali, yang akan menurunkan kepercayaan para stakeholder industri pariwisata. Amit-amit deh, kalau itu terjadi, akan lebih sulit lagi untuk mengembalikan citra Bali sebagai destinasi wisata yang sudah siap menyambut turis di masa pandemi ini.

Tapi, kalau nggak dicoba ‘kan nggak akan tahu, ya? Pemerintah pasti punya pemikiran matang, ditambah dengan kesiapan masyarakat Bali. Jangan sampai pengin untung, malahan buntung.

Final thoughts

Pandemi ini memberi banyak pelajaran bagi kita semua, termasuk para pekerja pariwisata di Bali. Ketergantungan berlebihan terhadap sektor pariwisata, baiknya menjadi pelajaran agar tidak terulang lagi di masa mendatang. Namun, bagi saya, inisiatif apapun dari pemerintah maupun swasta, yang bertujuan untuk membuat Bali kembali bergairah, patut didukung.

Hayuklah, work from Bali! Next akan saya share tips hidup dan kerja di Bali agar WFB kamu menjadi semakin menyenangkan.

Diterbitkan
Dikategorikan dalam percikan

Oleh bayik

Pernah menjadi juara catur nasional senior wanita tahun 1992. Anjrit, udah lama bener itu yak!

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *