Dari Diskriminasi ke Greetings Dalam Bahasa Jawa

by on

 

Isu satu ini sering sekali beredar: perlakuan beda kepada turis / penduduk lokal dan turis / orang asing di Bali. Banyak deh cerita beredar di sana-sini, termasuk di Tripadvisor yang jadi acuan review hotel, obyek dan destinasi wisata.

Diskriminasi, apapun alasannya, jelas nggak sehat dan harus diberantas.

Namun, setiap cerita punya dua sisi. Dari sisi wisatawan, mereka menganggap pelaku pariwisata di Bali masih banyak yang rasis. Yang menganggap kulit putih selalu banyak duit sehingga pantas diperlakukan lebih istimewa. (Padahal nggak juga ‘kan, banyak juga turis kere yang cuma bisa minum bir sebotol sepanjang malam clubbing. Sementara turis domestik banyak juga yang royal, yang nggak segan-segan mengobral duit buat beli minuman.)

Dari sisi tersangka sendiri (baca: pelaku pariwisata di Bali), mereka mengaku susah-susah gampang menghadapi tamu domestik. Masalah kecil saja: soal greetings. 

Saya sendiri mengakui, turis asing (mayoritas) menyenangkan karena mereka selalu tersenyum ramah bila disapa, royal mengucapkan selamat pagi-siang-sore-malam kepada para staf hotel atau club yang mereka temui.

Sementara tamu domestik? Mendapat ucapan selamat pagi malah buang muka. Belum kelakuan yang nggak pada tempatnya, yang menganggap staf hotel itu seperti pelayan mereka di rumah.

Pastinya sering gemas ‘kan, kalau di restoran mendapati tamu memanggil waiter/waitress dengan tidak pada tempatnya, terkadang bersiul atau berteriak tanpa bilang “tolong” atau “please“.

Sekali lagi, setiap cerita punya dua sisi. Tempat-tempat yang memberlakukan diskriminasi tanpa alasan jelas, tentunya layak mendapat peringatan bahkan mungkin sanksi sosial. Di sisi lain, para wisatawan lokal pun perlu belajar menempatkan diri lebih baik dan berkelakuan lebih sopan.

Anyway, bicara soal greetings alias ucapan selamat, saya teringat percakapan dengan seorang teman berbelas tahun silam.

Bahasa Jawa, punya macam bahasa kasar (ngoko) dan bahasa alus (krama). Aneh, salam seperti “selamat pagi” hanya mempunyai versi bahasa kramanya: “sugeng enjing”. Demikian juga dengan “selamat siang” = “sugeng siang”, “selamat malam” = “sugeng ndalu” dan seterusnya.

Bahasa krama ini kita pakai apabila lawan bicara lebih tua daripada kita, atau berkedudukan lebih tinggi sehingga layak kita hormati.

Aneh bahwa greetings ini nggak punya bahasa ngoko-nya. Kalau kita bertemu teman sebaya, greetings kita cuma sebatas: Piye kabare? Nggak ada ucapan selamat pagi, siang, sore, malam (kecuali bila bercakap dalam bahasa Indonesia ya).

Aneh ‘kan? Ya, aneh aja.

You may also like

3 Comments
  1. myrna 5 years ago

    hai bayik, pa kabar? Nemu lo di blognya okke sepatumerah. GUe sudah seminggu lebih di bali, dan bukan wisatawan. Gue kadang ngerasa penduduk lokal bali kurang begitu ramah sama pendatang. Ya mudah-mudahan prasangka gue salah seiring berjalannya waktu

  2. admin 5 years ago

    heh kamu! apakabar? haha. di Bali ampe kapan? tinggal di mana? udah punya KIPEM? hahaha. hayuk ketemuan!

  3. myrna 5 years ago

    bah! Itulah bay, mudah2an gue gak kena ciduk tengah malam apa pagi buta gara2 belum bikin KIPEM heehehehhe Gue di sanur nih, kontrak kerja 3 bulan…berartiiiii ampe agustus gtu??? japri no hp mu dong ke myrnatania@yahoo.com, ayohhhhh temanin aku ngopi bari liat sunset …apa nge bir? kekekekek

Leave a Comment

Your email address will not be published.