Hidden Figures (2016): Film Wajib Tonton Terutama Buat Kaum Bumi Datar

Hidden Figures (2016)Kemarin malam kami menonton Hidden Figures di Plaza Senayan XXI. Nggak ada pilihan lain, cuma Plaza Senayan XXI yang masih menayangkan film yang direkomendasikan banget oleh seorang teman baik. Teman kami bilang, film ini wajib tonton, benar-benar menyentuh hati dan membuka pikiran.

Dan benar.

Bagi saya, film yang bagus adalah film yang merangsang pikiran sehingga seusai nonton, saya langsung mencari tahu lebih banyak tentang apa saja yang tersaji di film tersebut.

Begitu juga dengan Hidden Figures.

Bercerita tentang tiga wanita kulit hitam yang bekerja di NASA tahun ’60-an, Hidden Figures menyajikan cerita yang sudah saya pahami (kisah diskriminasi ras di Amerika Serikat, perang dingin antara Amerika Serikat dengan Rusia) plus cerita yang baru membuka mata saya (komputasi tahun ’60-an, pemakaian mesin IBM menggantikan penghitungan manual).

Tokoh film ini: Katherine Johnson, Dorothy Vaughan dan Mary Jackson adalah karakter nyata, sebagaimana dinyatakan di awal film bahwa film Hidden Figures berdasarkan peristiwa nyata. Sebagai warga kulit hitam, mereka harus menghadapi banyak pembatasan, pun di kantor NASA.

Kamar mandi terpisah, tempat makan terpisah, akses perpustakaan dibedakan, bahkan teko tempat minum juga, semua dilabeli dengan “COLORED” untuk membedakan mana yang khusus untuk kulit putih dan mana yang bisa dipakai untuk kulit hitam.

Tapi saya kagum dengan semangat Katherine, Dorothy dan Mary menghadapi sekian banyak rintangan yang kalau buat saya mungkin bikin murka dan juga bikin mewek.

Mereka tidak banyak mengeluh. Mereka menjadikan tantangan itu untuk berbuat yang lebih baik.

Ketika mengetahui mesin IBM akan dipasang di kantor mereka dan akan menggantikan tenaga komputasi manual, Dorothy mengambil langkah proaktif tanpa banyak gembar-gembor. Dia belajar bahasa pemrograman FORTRAN (buat mahasiswa Ilmu Komputer tahun jebot pasti masih paham dengan bahasa ini).

Dan dia tidak egois. Dorothy mengajak semua wanita kulit hitam di divisinya untuk ikut belajar. Sehingga saat tiba waktunya, mereka tidak bisa disingkirkan karena NASA membutuhkan programmer dan tenaga untuk mengoperasikan mesin IBM.

Terlepas dari beberapa detil yang menurut kritikus film “sengaja diada-adakan”, bagi saya film Hidden Figures sungguh top banget! Adegan Katherine berlari-lari dari satu gedung ke gedung lain hanya untuk menggunakan toilet kulit hitam, memang diragukan benarkah ada (meskipun memang pada tahun-tahun itu, toilet dibedakan antara kulit putih dan kulit hitam). Tapi permohonan John Glenn di saat-saat terakhir peluncuran, yang meminta Katherine untuk mengkonfirmasi perhitungan komputer IBM, diyakini memang benar adanya.

Hidden Figures (2016)
Gambaran penghitungan manual di NASA ’60-an

Menonton film ini, saya baru sadar kalau tahun 1960-an, semua perhitungan matematika serumit apapun, masih dihitung secara manual. Dan Amerika Serikat meluncurkan roketnya berdasarkan hitungan sekian belas kepala, termasuk kepala Katherine yang berotak brilian. (Sungguh kagum pada Taraji P. Henson yang memerankan Katherine. Sebagai penggemar film Empire dan menyaksikan bagaimana Taraji berperan sebagai Cookie yang beda jauh dengan karakter Katherine, sungguh terbayang kesulitan yang harus ditaklukkan Taraji dalam film Hidden Figures ini.)

Mengapa diberi judul Hidden Figures? Karena ketiga tokoh wanita ini tidak tercatat dalam sejarah NASA. Tidak banyak yang mengetahui tentang profil mereka, apalagi di tahun-tahun saat diskriminasi ras masih menguat di Amerika Serikat. Meskipun belakangan, jasa mereka diakui dan Katherine Johnson menerima penghargaan tertinggi untuk warga sipil Amerika, Presidential Medal of Freedom dari Presiden Obama.

Hidden Figures dan Indonesia

Dan sepanjang film ini, saya teringat pada Indonesia.

Amerika Serikat (sebagaimana semua bangsa di muka bumi ini) pernah melewati masa-masa kelam, saat mereka memandang kulit putih dan kulit hitam adalah perbedaan yang harus ditegaskan, bukan dileburkan. Namun Amerika Serikat berhasil melewati masa itu, semua warga negara mempunyai hak yang sama terlepas dari masih adanya pribadi yang belum bisa menerima persamaan itu.

Indonesia, dalam skala yang lebih kecil: Jakarta, kini sedang berada di titik kritis gara-gara Pilkada DKI, karena ulah provokator yang tak peduli akan semangat persatuan dan kesatuan (sounds cliche, tapi “semangat persatuan dan kesatuan” adalah apa yang kita butuhkan sekarang ini).

Nggak perlu malu dan tutup mata, akui saja, sekarang beberapa golongan gemar membeda-bedakan warga berdasar suku dan agama. Dan apakah kita mau terjerumus ke dalam jebakan yang akan menghancurkan bangsa Indonesia kelak? Saya harap tidak.

Apabila orang-orang di NASA tidak mau memberi ruang dan kesempatan pada Katherine, apakah projek peluncuran roket mereka akan berhasil? Mungkin tidak. Mungkin ya, namun membutuhkan waktu yang lebih lama.

Itulah. Daripada gontok-gontokan mempermasalahkan perbedaan yang tidak substansial, mengapa tidak bersatu padu membangun? (Jadi ingat perjalanan ke Ho Chi Minh. Negara yang luluh lantak gara-gara perang, bisa cepat bangkit dan lebih maju dari Indonesia, karena mereka fokus membangun, tidak seperti kita yang berantem melulu.)

Oya, kalau di judul tulisan ini saya menaruh “kaum bumi datar” alias mereka yang percaya bumi itu datar, bukan bulat (dan nggak cuma di Indonesia, pemercaya “flat earth” ini banyak juga kok di luaran), saya sarankan mereka nonton film ini.

Biar mereka bisa ikut menyaksikan perjalanan John Glenn saat mengorbit bersama bumi. Yang nggak akan terjadi kalau bumi itu datar.

Baca tulisan lainnya....

One Response

  1. Hantu Nasionalis says:

    Ya Ya Ya….. Bumi Itu Bulat Seperti yang dikatakan NASA dan pelajaran Di semua Sekolahan.

    Hollywood berhasil mencuci otak manusia dan jauh dari Hitungan Logic dan masuk akal…. Darimana hitungan jarak matahari dan hitungan terjadinya gerhana??? Kenapa nasa masih menggunakan hitungan jaman dahulu untuk menentukan periode gerhana???? Kenapa gak masukin hitungan mereka tentang jarak, rotasi dan periode matahari versi mereka???
    Karena mereka gak akan berhasil menentukan periodik gerhana dengan hitungan mereka yang berdasarkan KIRA KIRA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *