Ulasan Film The Intern (2015)

[Ulasan] The Intern (2015), Kisah Pegawai Magang Senior

Sudah lama pengin menulis ulasan tentang film The Intern (2015). Film lama, memang, tapi saya masih suka tonton ulang kalau lagi habis ide mau ngapain. Ceritanya nggak berat, easy going tapi nggak klise juga. Dan mengapa saya suka film ini, tentunya karena sedikit banyak merasa terhubung gitu dengan tema film ini.

The Intern berkisah tentang Ben Whittaker, seorang pensiunan, duda berusia 70 tahun yang merasa dirinya bosan menjadi pensiunan. Saat terbuka kesempatan, dia melamar menjadi seorang intern atau pekerja magang di sebuah situs jual beli fashion online.

Meski Ben pernah menjadi petinggi di perusahaan saat dia masih aktif bekerja, tentu saja pengalamannya itu kurang relevan dengan masa digital sekarang ini.

Dulu, Ben bekerja di satu perusahaan yang mencetak buku telepon. Hari gini, siapa yang butuh buku telepon?

Generasi sekarang mungkin malah nggak pernah melihat wujud asli buku telepon alias Yellow Pages kalau di negara kita.

Di perusahaan ecommerce tempat Ben magang, Ben ditugaskan menjadi asisten pribadi Jules Ostin, seorang ibu muda yang bekerja keras mewujudkan mimpinya yaitu menyediakan platform belanja online yang sempurna bagi para wanita.

Tentu saja, terjadi proses dalam menerima keberadaan Ben, bagi Jules si anak muda yang selalu sibuk sampai menelpon balik maminya saja tidak sempat.

Ben akhirnya tidak hanya mendapat tempat spesial dalam pekerjaan Jules, tapi juga dalam kehidupan pribadi Jules. Saat itu, Jules sedang dilanda kegelisahan untuk menyeimbangkan dunia kerja dan keluarga. Suami Jules yang menjadi house husband alias stay-at-home dad alias “bapak rumah tangga” juga memiliki masalah tersendiri.

Biar nggak jadi spoiler, alur cerita The Intern saya akhiri di sini ya. Tonton sendiri filmnya untuk mendapatkan keseluruhan cerita.

*****

Official Trailer The Intern

Saya senang melihat gaya Ben dalam menghadapi masalah. Pembawaannya yang tenang tentunya karena dia sudah berpengalaman banyak, namanya juga sudah 70 tahun.

Etapi saya juga sudah berumur tapi masih pethakilan gini hehehe. Umur tidak menjamin seseorang berlaku tenang atau tidak sih.

Ben tidak mengedepankan emosi. Segala masalah yang terjadi dia hadapi dengan tenang. Stoik banget deh.

Almost perfect lah Uncle Ben ini.

Akting Robert De Niro sebagai Ben diimbangi oleh Anne Hathaway yang berperan sebagai Jules. Keduanya bersinergi apik sehingga adegan demi adegan meluncur dengan halus.

The Intern, seperti saya tulis di atas, bukan film yang spektakular. Tapi banyak pelajaran yang bisa kita petik dari film ini.

Film ini juga tidak menyuguhkan humor yang bikin kita terbahak-bahak. Paling cuma menerbitkan senyum simpul saja.

Beberapa kutipan dari film ini yang berarti bagi saya, antara lain:

  • “I just know there’s a hole in my life and I need to fill it… soon.”
  • “I still have music in me, absolutely positive about that!”
  • “You should feel nothing but great about what you’ve done, and I’d hate to see you let anyone take that away from you.”

*****

Satu pertanyaan terbersit, apakah posisi senior intern ini ada di dunia kerja sesungguhnya? Atau itu cuma ada di film semata?

Menurut artikel di The Take ini, di Amerika posisi senior intern bisa ditemukan di beberapa perusahaan, meski belum populer.

Sebenarnya menarik sih untuk mempekerjakan senior intern. Tentunya dengan kualifikasi seperti Ben, ya.

Pertama, tidak baperan. Rentang usia yang beberapa kali lipat bisa menyebabkan canggungnya komunikasi atau malah miskomunikasi.

Kedua, mau belajar. Ben yang tidak begitu mengikuti teknologi, tidak malu-malu untuk bertanya dan belajar.

Ketiga, mengayomi. Bukan berarti jadi orang tua yang kepo dan merasa dirinya sebagai senior sudah tahu segalanya, ya. Cukup sifat mengayomi saja yang kita butuhkan dari senior intern ini.

Keempat, pernah menjadi puncak pimpinan suatu perusahaan adalah bonus tersendiri. Mengapa? Biasanya, menjadi pemimpin level C disertai dengan kestabilan emosi, kematangan sikap, dan luasnya wawasan. Hal-hal yang sangat berguna bagi kolega di tempat kerja yang umumnya masih muda dan bocah, apalagi di sebuah perusahaan yang berkultur toxic positivity.

Kamu pernah menemui senior intern di perusahaan di Indonesia? Bagikan ceritamu di kolom komentar ya!


Posted

in

,

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *