Toxic positivity, racun bagi seorang pemimpin

Toxic Positivity, Racun yang Berbahaya Bagi Pemimpin

Pertengahan tahun ini saya berdebat dengan seorang teman. Cara dia memandang peristiwa atau sesuatu hampir selalu dilandasi dengan berpikir positif. Sampai-sampai saya bilang, dia sudah terjangkit racun bernama toxic positivity.


“Toxic positivity is an obsession with positive thinking. It is the belief that people should put a positive spin on all experiences, even those that are profoundly tragic.”

~ MedicalNewsToday

Don’t get me wrong. Untuk beberapa teman, saya dikenal sebagai orang yang positif. Saya selalu membangkitkan semangat teman saya jika mereka sedang terpuruk. Saya selalu mendukung relationship teman saya selama itu yang mereka inginkan sementara hampir semua teman kami yang lain bersikap menentang.

Meskipun, menurut saya, saya tidak selalu positif. Saya hanya berusaha realistis.

Tak jarang, saya berkata pedas demi menunjukkan pada teman bahwa dia harus berusaha lebih keras lagi.

Tak jarang, saya terkekeh menertawakan teman yang tertimpa kesialan karena kebodohannya. Saya bukan tipe orang yang gampang bilang, “Everything happens for a reason.”

Ah, saya mengamini bahwa everything happens for a reason, tapi saya juga menyertakan alasan-alasan mengapa sesuatu itu terjadi, yang bisa jadi berupa kebodohan atau ketidaktahuan.

Got my point?

Segala sesuatu yang terlalu itu tidak baik. Termasuk terlalu positif dan mengabaikan hal-hal negatif yang semestinya kita akui keberadaannya, agar kita bisa bertumbuh dan menjadi kuat.

Kembali ke senja itu. Saya hampir tersedak ketika teman saya bilang, “Tapi dia hebat.”

“Dia” ini mengacu pada seseorang yang kami kenal.

Mengapa reaksi saya berlebihan?

Karena “dia” itu jauh dari kata hebat. (Perlu saya tekankan, bukan hanya saya yang berpendapat seperti ini. Jadi jangan dulu mengira saya sirik pada “dia”.)

“Menurutmu, mengapa dia hebat?” Saya mencoba mencari tahu latar belakang pemikiran teman saya.

“Karena … dia bisa sampai di posisi dia sekarang ini. Itu sesuatu yang hebat.”

Kembali saya terbahak. “My dear, dia jauh dari hebat. Bokapnya aja yang tajir dan mau mendanai dia mendirikan perusahaan untuk dipimpinnya.”

Mengapa saya tidak mengamini perkataan teman saya?

Karena bagi saya, bukan sesuatu yang pantas dibanggakan jika kita menjadi pucuk pimpinan karena hadiah dari orang tua.

Yang pantas dibanggakan adalah jika kita bisa menjadi pemimpin yang baik, terlepas dari cara kita mendapatkan kursi kepemimpinan itu.

Menjadi pemimpin perusahaan karena kekayaan keluarga, tidak masalah. Tapi apakah otomatis itu menjadikan kita sebagai pemimpin yang baik, itu masalah lain.

Dan “dia” sama sekali bukan pemimpin yang baik.

Turn over yang tinggi, keputusan-keputusan salah yang dibuatnya, kasak-kusuk karyawan di belakang punggungnya, terkadang membuat saya merasa sedih.

Yang membuat “dia” tambah tidak baik adalah orang-orang di sekelilingnya yang memaksa diri bersikap positif.

Yang setiap pagi, setiap hari bilang “Bapak hebat” padahal tidak ada kemajuan yang dibuatnya.

Yang setiap “dia” berbuat kesalahan, selalu berusaha memakluminya, ketimbang menunjukkan kesalahan itu agar lain kali tidak terulang.

See? Sudah melihat kehadiran racun positivity yang selalu bikin saya gemas?

Sekali lagi, don’t get me wrong.

Saya tidak menentang kata-kata penyemangat. Saya tidak mengharamkan kata-kata pujian.

Selama masih dalam kadarnya.

Jika terlalu berlebihan, itu akan menjadi racun yang berbahaya.

Terbukti pada si “dia” yang selalu menganggap dirinya baik-baik saja, dan menganggap orang yang berbeda pendapat dengannya berada di pihak yang salah.

Jadi, pantas ‘kan kalau saya terbahak setengah mampus ketika ada yang bilang, “Dia hebat.”

Hebat dari Hong Kong.

“Kamu tidak harus selalu berkata positif tentang seseorang,” kata saya pada teman saya. “Termasuk tentang aku. Jika kamu punya pandangan beda denganku, itu baik, selama kamu bisa mempertahankannya. Punya bukti dan alasan untuk mendukung pendapatmu.”

Tidak hanya sekadar berpikir positif, hanya karena menganggap positif itu baik dan berpikir negatif itu jahat.

“Dia jadi tidak berkembang, kamu lihat. Kalian-kalian selalu memujinya. Yang tidak memujinya, pasti akan tersingkir. Sudah berapa banyak karyawan yang dia hentikan kontrak karena berbeda pendapat dengannya? Dan kalian masih saja bilang dia hebat. Dia jadi tidak bertumbuh, tahukah kamu?”

“Mungkin, orang-orang yang bilang dia hebat itu, tidak punya pilihan. Mereka masih butuh pekerjaan. Butuh gaji. Mereka tidak seperti kamu yang bisa bebas berkata apa saja tanpa beban.”

Kali ini saya terdiam. Teman saya benar.

Saya diberi keberuntungan bisa mengutarakan pendapat saya dengan bebas. Saya tidak terbebani uang sekolah anak, tidak harus membiayai upacara adat.

“Kamu benar. Dan itu menyedihkan, bukan?” Saya menyeruput habis sangria yang menemani kami bercakap sedari senja masih meremang.

Buat kalian yang membaca tulisan ini, perlu kalian tahu, apa yang tertulis di sini hampir semuanya sudah saya sampaikan pada “dia”. Tapi seperti saya tulis di atas, karena tameng positivity dia begitu tebal, malah saya yang jadi jahat di matanya. Saya dituduh tidak memahaminya. Saya dicap selalu berpikir negatif. Saya tidak satu visi dengannya.

Jadi ya saya lambaikan tangan ke kamera. I rest my case.

Bonus satu video bagus dari Tedx Talks tentang toxic positivity. Enjoy!


Posted

in

,

by

Comments

Satu tanggapan untuk “Toxic Positivity, Racun yang Berbahaya Bagi Pemimpin”

  1. […] dulu saya sempat berceloteh tentang toxic positivity, kali ini saya ingin ngomyang tentang toxic work culture. Bagi kaum pekerja, pasti sering mendengar […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *