Ulasan: “Mata Hari” (Paulo Coelho, 2016), Mata-mata Yang Terjebak

by on

Ketika melihat buku Paulo Coelho di rak, apalagi judulnya “Mata Hari” (edisi terjemahan bahasa Indonesia), nggak pakai pikir panjang saya langsung beli. Sebagai penggemar Paulo Coelho, saya pengin tahu gimana dia menceritakan kisah Mata Hari, yang konon adalah mata-mata ganda saat Perang Dunia I.

Dan buku setebal 192 halaman ini cukup berhasil menyajikan cerita lain tentang Mata Hari. Sebelum baca buku ini, saya mah tahunya cuma Mata Hari itu seorang wanita yang menjadi mata-mata ganda yang berasal dari Hindia Belanda alias Indonesia. Ternyata pengetahuan saya salah.

Mata Hari tidak berasal dari Indonesia, tidak berdarah Indonesia (meskipun konon Remy Silado menuliskannya begitu dalam novelnya, “Namaku Mata Hari”). Dia yang bernama asli Margaretha Geertruida “Margreet” MacLeod (Zelle), lahir di Belanda dan hanya mengikuti suaminya, perwira Belanda yang ditugaskan di Hindia Belanda. Kelak, saat Zelle meninggalkan suami dan kembali ke benua Eropa, spontan nama “Mata Hari” tercetus saat Zelle ditanya tentang siapa namanya. Zelle tidak ingin memakai nama aslinya yang jelas menunjukkan nama keluarga.

Mata Hari tenar di Perancis sebagai penari yang berani mempertunjukkan lekukan tubuhnya, yang dibalut dalam eksotisme ketimuran. Dalam penuturan Paulo Coelho, Mata Hari sebenarnya bukanlah seorang penari yang brilian. Dia seorang penari yang tahu bagaimana menonjolkan kekuatan (kecantikan, lekak liku tubuh) dan memanfaatkan kekurangtahuan audiens (penonton yang hanya peduli pada kemolekan tubuh penari, tanpa tahu bagaimana sebenarnya dunia Timur itu sendiri).

Dari pengakuan Mata Hari, dia bukanlah mata-mata ganda alias double agent. Pelacur, ya. Mata-mata ganda, bukan. Itu jelas dia maklumatkan. Niat dia adalah mengabdi untuk negara Perancis, bukan Jerman. Namun siapa yang percaya kata-kata seorang pelacur? Kecintaan pada eksistensi yang berlebihan menghantarkannya pada kecerobohan, sebagaimana disepakati oleh pengacaranya, dan berujung pada hukuman mati.

Mata Hari (Sumber: https://www.oddsalon.com/further-reading-covert/)

Perjalanan hidup Mata Hari, termasuk episode di Hindia Belanda yang menjadi salah satu momen penting bagi pembentukan karakter Mata Hari, lengkap bisa kita baca di buku karya Paulo Coelho ini. Disajikan dengan sudut pandang orang pertama, kita diajak sang pengarang untuk menelusuri sejarah dari sudut pandang Mata Hari (dan berganti menjadi sudut pandang sang pengacara di bagian III).

Ada catatan dari pengarang bahwa, “Meskipun semua fakta dalam buku ini sungguh terjadi, saya harus mengarang beberapa dialog, menggabungkan beberapa adegan, mengubah urutan beberapa peristiwa, dan menghilangkan apa saja yang menurut saya tidak relevan pada kisah ini.”

Setiap cerita selalu punya dua sisi, bahkan punya banyak versi. Untuk itulah buku ini ada. Dan seperti biasa, buku yang bagus adalah buku yang menggugah pembacanya untuk berpikir dan menimbulkan keingintahuan.

Bagi saya, Mata Hari hanyalah seorang wanita yang terjebak oleh keinginan duniawinya (terkenal, menjadi kaya, memiliki hubungan dengan banyak orang penting, takut dilupakan saat kejayaannya pudar). Keinginan yang membahayakan.

Di satu sisi, keberaniannya untuk tampil sebagai penari eksotis (sampai konon Nijinsky terinspirasi oleh tampilannya di panggung) dan ketangguhannya menghadapi hidup, adalah satu inspirasi bagi setiap wanita (termasuk saya). Kasar kata, hidup gak usah menye-menye, hadapi dan taklukkan!

Namun saya bertanya-tanya mengapa dia begitu heboh sampai tercatat dalam buku sejarah dunia, padahal kalaupun dia mata-mata, “sumbangsih” untuk peperangan pun sangat kecil karena tidak ada informasi penting yang dia kirimkan baik untuk Jerman maupun untuk Perancis.

Mungkin dia hanya tumbal. Setiap pemerintah butuh tumbal untuk memperkuat eksistensi mereka di mata rakyat, dan Mata Hari adalah tumbal yang dipertontonkan sebagai bukti bahwa pemerintah Perancis mampu menangkap agen yang bekerjasama dengan negara musuhnya.

Oya, tumben-tumbennya nih, Paulo Coelho menyertakan tulisan tangannya di halaman dalam buku ini. “To my readers in Indonesia, where part of this story takes place, with all my love – Paulo Coelho”. Nice!

 

You may also like

Leave a Comment

Your email address will not be published.