Membedah Kritik, Feedback dan Cara Bijak Menanggapinya

Cara Bijak Menanggapi Kritik
Cara Bijak Menanggapi Kritik

Kemarin, seorang teman memajang poster berisi kutipan dari Denzel Washington: “You’ll never be criticized by someone who is doing more than you. You’ll always be criticized by someone doing less. Remember that.”

Saya tidak tahu apakah itu benar ucapan Denzel Washington, dan belum menemukan dalam konteks apa Denzel mengucapkan kalimat itu.

Tapi otak saya yang skeptis ini langsung menyusun argumen. Kutipan itu kok seperti defense mechanism ya, seperti orang yang habis dikritik tapi ogah menerima lalu mengeluarkan pernyataan seperti itu sebagai pembelaan.

Argumen saya simple aja. Misalkan saya bikin film pendek, lalu Garin Nugroho menonton dan mengkritik film saya. Bijakkah kalau saya menolak mentah-mentah kritik dari Garin Nugroho?

Atau dalam kehidupan bernegara. Bijakkah kalau kita berhenti mengkritik pemerintah? Ya, sudah jelas kita tidak bekerja sekeras Jokowi dalam mengatur pemerintahan, jadi kalau menurut kutipan di atas, kita tidak berhak mengkritik ya?

Keingintahuan saya akhirnya membawa saya ke belantara Google, dan ternyata perihal kritik ini tidak sesederhana kelihatannya.

Atau ya, sebenarnya sederhana saja, tapi kita yang bikin jadi ruwet.

Sepengamatan saya, ada dua golongan sebagai berikut:

  1. Yang percaya kita bisa mendapatkan manfaat dari kritik sepedas apapun itu
  2. Yang percaya kritik itu sudah pasti negatif jadi abaikan saja bro, tidak peduli siapa yang ngomong dan apa isi kritik itu.

Sedikit cerita nih, kutipan dari tulisan saya dahulu kala:

Saya masih ingat jaman Multiply dulu, saya menulis satu ulasan pedas tentang “Gege Mengejar Cinta”. Pedas banget deh. Eh lha kok si Adhitya Mulya mampir ke akun saya dan meninggalkan komentar, kurang lebih dia berterima kasih atas ulasan saya dan nggak ada nada tersinggung atau marah karena buku yang dipuja para remaja saat itu, saya jadikan bahan tertawaan. Salut!

Ulasan Sabtu Bersama Bapak

Peristiwa sederhana di atas sangat membekas, dan menjadi contoh agar saya bertumbuh sebagai pribadi yang siap menerima kritik, apapun itu. Padahal bisa saja toh, waktu itu Adhitya Mulya mengeluarkan kartu truf seperti Denzel. Siapalah saya, nulis buku saja belum pernah (waktu itu). Sementara dia sudah terkenal sebagai penulis kondang. Toh Adhitya mau membaca ulasan saya dan tidak marah sama sekali!

Kritik vs Feedback

Kalau diurut-urut ke hulu, kritik itu sebenarnya satu bentuk feedback. Ada satu artikel menarik yang membahas tentang macam-macam feedback ini, dan kritik masuk sebagai salah satu jenis feedback di tempat kerja. Jenis feedback di tempat kerja (atau dalam urusan bisnis) sebagai berikut:

  1. Praise (Appreciation)
  2. Criticism
  3. Evaluation
  4. Coaching
  5. Encouragement

Kalau dari sifatnya sendiri, saya cenderung mengkategorikan feedback secara sederhana menjadi tiga macam:

  1. Positif
  2. Konstruktif
  3. Negatif

Tapi sebagaimana hidup itu tidak terdiri dari hitam dan putih saja, melainkan terdiri dari bermacam makna, demikian pula dengan feedback ini.

Feedback yang positif, ternyata bisa menghancurkan (jadi negatif juga dong sifatnya ya?). Yang termasuk dalam kategori ini adalah puja-puji yang terus-terusan dilancarkan padahal yang dipuja-puji sebenarnya tidak pantas mendapatkan pujian.

Feedback yang negatif, sudah jelas menyoroti keburukan akan sesuatu yang kita lakukan, dan tidak disertai dengan alternatif solusi atau saran untuk perbaikan ke depannya. Kritik, bila disampaikan dengan tidak bijak, bisa jatuh ke dalam area feedback yang negatif.

Feedback yang konstruktif, adalah feedback yang tidak sekadar berisi puja-puji atau kritik, namun disertai dengan analisa mendalam, dan saran atau solusi yang bisa dilakukan. Ini kalau bahasa Indonesianya, mungkin bisa disebut dengan “kritik yang membangun”, kali ya?

Dalam hidup, kita tidak bisa mengatur tingkah laku orang-orang selain diri kita sendiri. Jadi, kita tidak bisa mencegah orang untuk memberikan feedback, baik diminta atau tidak.

Yang bisa kita lakukan adalah menyikapi feedback tersebut dengan bijak.

Cara bijak menanggapi feedback

  1. Dengarkan sampai tuntas
    Mendengarkan di sini bukan hanya mendengarkan dengan telinga. Mendengarkan di sini berarti siap menerima semua yang disampaikan si pemberi feedback, untuk kemudian diolah. Tidak diterima mentah-mentah ya! Ini berlaku untuk semua jenis feedback. Menelan mentah-mentah pujian yang disampaikan para penjilat, bakal bikin kita besar kepala dan tidak sadar akan kelemahan kita. Pun, menelan mentah-mentah kritik yang kita dapat, akan membuat kita sakit hati dan selanjutnya tidak bisa bersikap normal.
  2. Jangan main hati
    Bahasa Inggrisnya: Don’t take it personal. Agar kita tetap bisa objektif. Menerima pujian, tidak harus bikin hati kita kembang kempis dan besar kepala. Menerima kritik, tidak harus langsung sakit hati. Intinya, tahan emosi, agar kita bisa lakukan langkah berikut dengan kepala dingin.
  3. Evaluasi
    Cerna apa yang tadi sudah kita dengarkan. Akui jika ada kebenaran di dalamnya, meski kebenaran itu terkadang pahit rasanya. Jangan seperti Denzel Washington yang defensif dan menolak kritik. Lakukan evaluasi juga untuk feedback yang bersifat positif. Seperti yang tadi saya ungkap, pujian itu bukan berarti selalu positif. Kalau over dosis, bisa bikin pertumbuhan kita mandeg dan kita gagal memperbaiki diri karena kita tidak objektif menilai diri sendiri.
  4. Ucapkan terima kasih dan move on
    Seperti cerita tentang Adhitya Mulya di atas, ucapkan terima kasih pada si pemberi feedback. Lalu move on, dalam artian lanjut bekerja. Tidak usah berkubang terlalu lama merenungi feedback yang kita terima. Kerja, kerja, kerja.

Sepanjang perjalanan hidup saya, saya sudah kenyang dengan feedback. Pengalaman hidup mengajarkan pada saya bahwa pujian itu bisa menghancurkan, dan sebaliknya, kritik itu bisa membangun dan menjadikan saya lebih baik. Tergantung cara kita menyikapinya saja.

Karena tidak ada yang lebih menyebalkan daripada menghadapi orang yang bebal. Tidak mau terima feedback yang negatif maupun konstruktif, maunya dipuji-puji saja padahal data menunjukkan sebaliknya. Anti kritik dengan perisai andalan seperti kutipan Denzel Washington itu.

Seperti kisah Raja yang telanjang, yang percaya diri keliling kota tanpa memakai busana. Seluruh rakyat yang takut membuat Raja marah, memuji-muji baju yang dipakainya (padahal dia telanjang bulat). Sampai keluar celetukan dari anak kecil yang polos dan tidak bisa bohong, “Loh, Raja kok tidak pakai baju?”

Kalau kamu jadi Raja, apa tanggapanmu menghadapi celetukan anak kecil itu?

Diterbitkan
Dikategorikan dalam percikan

Oleh bayik

Pernah menjadi juara catur nasional senior wanita tahun 1992. Anjrit, udah lama bener itu yak!

2 komentar

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *