Terlahir Miskin = Privilese

Jadilah Miskin Agar Anak Anda Punya Privilege

Sudah lumayan berselang sejak Indra Kenz mengeluarkan pernyataan kontroversial. “Terlahir miskin itu privilege,” cuitnya. Sontak warganet bereaksi. Kebanyakan sih menghujat, meskipun ada juga yang manggut-manggut dan bersyukur terlahir miskin karena oh ternyata, terlahir miskin itu privilege?

Kita semua sudah pahamlah kalau cuitan viral Indra Kenz (saya juga baru ngeh eksistensi Indra Kenz setelah viral ujarannya ini) ternyata berselubung maksud lain. Seperti biasa, seleb setelah gegeran, ujungnya peluncuran produk. Yes, Indra Kenz meluncurkan buku yang judulnya bisa ketebak. “Terlahir miskin = privilege”, judul buku yang jadi tameng setiap ada warganet yang menuntut Indra Kenz untuk menjelaskan pernyataannya.

“Baca dulu buku saya untuk paham apa yang saya maksud,” gitu kira-kira ajakannya.

Kalau dikasih gratis sih, saya mau. Tapi kalau disuruh beli, ogah ya bung. Masih banyak hal berfaedah yang bisa saya lakukan dengan duit saya. Misalnya, beli kuota segedabreg agar lancar browsing dan blogging seperti ini.

Sisihkan sajalah Indra Kenz. Mari kita bahas seputar privilege.

Seberapa istimewa privilese kita?

Kalau kata Uda Lanin, yang benar penulisannya menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah “privilese”.

Yaksip! Mari kita gunakan “privilese” saja.

Privilese adalah hak istimewa. Tidak ada batasan mengenai asal hak istimewa ini. Jadi seseorang bisa dikatakan memiliki privilese karena faktor kekayaan, kecantikan, ras, dan masih banyak hal lainnya.

Sesungguhnya memang, setiap kita ini punya privilese. Masalahnya, seberapa istimewa privilese yang kita punya?

Orang yang terlahir kaya, jelas memiliki privilese yang sungguh istimewa. Dibesarkan dengan gizi yang cukup, mendapat pendidikan berkualitas tinggi, tumbuh di lingkungan kaum berprivilese sehingga mudah mendapatkan akses ke berbagai hal.

Orang yang terlahir tidak kaya, misalnya saya, pun punya privilese. Dengan catatan, jika dibandingkan dengan kaum yang lebih inferior ya. Kalau dibandingkan Sisca Kohl, privilese saya jadi tidak terlihat istimewa, pastinya.

Meskipun orang tua saya bukanlah orang kaya, namun mereka mampu memberikan kami pendidikan yang berkualitas (tentu saja tidak sampai sekolah di luar negeri). Kami juga tidak perlu bingung mau makan apa, masih bisa menikmati liburan ke luar kota setiap tahun, masih bertimbun bahan bacaan karena orang tua kami menekankan kami harus gemar membaca.

Dibandingkan dengan mayoritas tetangga kami yang kurang berada, tentu di mata mereka, keluarga kami punya hak istimewa.

Jadi intinya privilese itu terlihat ketika kita membandingkan dua persona atau dua kelompok dengan status yang berbeda. Pasti akan terlihat bahwa salah satu memiliki hak istimewa.

Tapi bukan berarti saya setuju dengan pernyataan bahwa terlahir miskin = privilege, ya!

Sebenarnya mudah saja kok membantah statement Indra Kenz itu.

Privilese adalah hak istimewa. Hak istimewa dalam konotasi positif ya, dalam artian banyak diinginkan oleh banyak orang.

Bisa saja seorang narapidana berkilah, “Menjadi napi itu privilese lho, kalian nggak bisa ‘kan merasakan makanan ala ransum penjara. Hanya kami yang bisa!”

Siapa juga yang mau jadi narapidana, hayo?

Sama seperti statement viral berbau promosi itu.

Siapa juga yang mau terlahir miskin?

Atau kalau nggak, Indra Kenz aja deh. Mau nggak dia buang semua kekayaannya agar jadi miskin dan kelak, anaknya terlahir miskin agar anaknya punya privilese?

Privilese itu nyata dan bukan dosa

Privilese itu ada dan nyata. Kita semua tahu hidup itu tidak adil. Bukan berarti kita lantas ngambek tidak mau menjalani hidup, ya tetap kita jalani lah dengan segala ketidakadilan yang kita terima atau yang terpampang di depan mata kita.

Yang nyebelin ‘kan kalau kaum berprivilese itu seakan-akan lupa kalau mereka punya segudang hak istimewa.

Lantas mengklaim bahwa pencapaian mereka semata-mata karena kerja keras mereka, tanpa memanfaatkan privilese yang mereka punya.

Seperti Putri Tanjung, misalnya. Yang ringan saja bilang, “Saya pernah rugi 800 juta sampai mengurung diri di kamar tiga hari.”

Ya tentu saja statement macam ini langsung dibantai warganet tercinta.

Jangankan 800 juta. Mau pesan GoFood saja, saya musti bolak-balik scrolling menu, cari resto yang promonya bisa maksimal kita dapatkan.

Mending seperti Kaesang lah. Dalam podcast Kaesang bersama Dedy Corbuzier, dia jelas-jelas bilang kalau beban dia lumayan ringan dalam memulai usaha. Kalau rugi, masih ada Bapak, kok. Dalam artian, kalau rugi ya dia masih bisa hidup kok, pinjam duit Bapak misalnya untuk mulai usaha lagi.

Nggak kayak kita yang mau mulai usaha maju mundur karena kalau rugi, habislah hidup kita.

Tidak perlu malu mengakui kalau kita punya privilese.

Punya privilese itu bukan dosa. Tidak perlu disangkal.

Itu langkah awal untuk bersimpati dengan sesama.

“Saya punya privilese. Langkah saya jadi mudah. Tidak seperti teman saya yang tidak punya privilese. Baiklah, saya tidak akan mencerca kegagalan dia karena saya tahu, dia sudah berjuang sebisa dia. Apa ya, yang bisa saya bantu agar dia bisa bangkit kembali?”

Simpati, gitu ‘kan ya.

Yang menyebalkan itu ‘kan kalau punya privilese lalu denial. Menganggap seolah-olah privilese itu tidak berpengaruh pada kesuksesan mereka.

Akui saja, bos. Privilese itu ‘kan ibarat modal awal. Akui saja kalau modal awal kalian berasal dari orang tua, misalnya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung ya misalnya orang tua kasih duit sekian miliar untuk bikin perusahaan. Secara tidak langsung ya karena orang tua kalian terpandang, punya koneksi luas, orang jadi segan menghadapi Anda.

Privilese dan kemiskinan struktural

Saya jadi teringat kisah Jeff Bezos, Bill Gates dan Elon Musk seperti cuitan di bawah ini.

Menarik melihat Aidan Smith menyebut propaganda blames poverty on personal failure and attributes wealth to personal virtue.

Karena memang ada yang dinamakan kemiskinan struktural.

Menurut Selo Soemardjan (1980), kemiskinan struktural adalah kemiskinan yang dialami oleh suatu golongan masyarakat karena suatu struktur sosial masyarakat yang tidak bisa ikut menggunakan sumber-sumber pendapatan yang sebenarnya tersedia bagi mereka.

Sekuat apapun masyarakat yang tertimpa kemiskinan struktural berusaha, mereka tidak akan terbebas dari kemiskinan yang membelit mereka. Mengapa? Karena memang disengaja begitu.

Kalaupun ada satu-dua yang lolos dari kemiskinan, itu adalah anomali dan semata-mata karena nasib baik. Diangkat anak oleh orang kaya, misalnya.

Propaganda diluncurkan agar masyarakat menerima nasib sebagai orang miskin. Romantisasi kemiskinan, misalnya.

Padahal kemiskinan struktural bisa dihapuskan, selama pemerintah dan pemegang kebijakan punya niat.

Yang terjadi di banyak negara, kemiskinan dipelihara agar sumber daya alam tetap bisa digerus dan digelontorkan untuk memperkaya mereka yang sudah kaya.

Mereka yang mudah melontarkan penghakiman “dasar mental miskin, lu!” seakan abai bahwa lepas dari jerat kemiskinan, apalagi kemiskinan struktural, itu sulitnya minta ampun.

Saya tidak menafikan bahwa ada yang dinamakan “mental orang miskin”. Ini saya simpan buat bahasan lain waktu saja.

Daripada ngalor ngidul, mending saya sudahi saja ya tulisan kali ini.

Simpulannya: kalau memang Anda setuju terlahir miskin = privilese, mengapa Anda tidak jadi miskin saja, agar anak Anda kelak terlahir miskin dan punya privilese?


Posted

in

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *