Mengapa Pergantian Tahun Tak Lagi Begitu Berarti Seperti Dulu?

Tahun Baru 2021
Tahun baru 2021, tak perlu menoleh ke belakang

Paling tidak, itu buat saya, ya. Pergantian tahun tak lagi terasa begitu gempita seperti dahulu. Istilahnya, udah bosan. Tiap tahun, ganti tahun. Belum lagi nanti pergantian tahun kalendar China (kalau ini masih lumayan ada gregetnya, karena saya masih sibuk cari tahu peruntungan shio saya di tahun baru China, hehehe).

Bisa jadi, segala sesuatu yang rutin, akan jadi hambar, tak lagi berasa.

Ibaratnya senang nasi goreng, trus tiap pagi, siang, malam makan nasi goreng terus. Mbleneg, iya.

Jadi ya, buat saya ganti tahun cukup disyukuri saja. Nggak ada lagi party, nggak ada lagi perayaan berarti. Apalagi saya yang sekarang lagi LDR (lagi) dan partner jauh di Jakarta sana.

Eniwei, bolehlah meringkas tahun 2020 kemarin dalam satu tulisan ini, untuk menitipkan ingatan. Seperti kita semua paham, tahun 2020, semua bilang tahun jahanam. Iya banget lah. Siapa sangka coronavirus bakal meluluhlantakkan semua sendi kehidupan.

Saya masih ingat, awal tahun 2020 semua begitu semangat menyambut tahun yang baru. Terlebih menjelang Chinese New Year, saat turis China/Taiwan berbondong-bondong mengunjungi Bali.

Bersamaan dengan tahun baru China, kabar tentang coronavirus pun mulai menerpa. Tapi kami – di Bali – masih santai-santai saja.

Awal Februari 2020, saya sempat seminggu bertandang ke Taiwan. Di sana, tak ada kepanikan tentang virus corona. Semua berjalan seperti biasa. Hati saya pun ikut tenang, tapi ternyata, ketenangan itu hanya di permukaan. Ada bara dalam sekam.

Yang kemudian menjadi api dengan terbitnya pelarangan penerbangan masuk ke Indonesia, dan tak henti-hentinya pelarangan atau aturan tentang apapun yang bertujuan untuk meredam lajunya virus corona.

Barulah kami panik. Sedikit. Kami – di Bali – pikir virus jahanam ini bakalan bertahan tiga bulanan saja. Kami masih bisa tertawa, meski hari demi hari tersiar kabar kantor si A tutup, kantor si B melakukan PHK massal.

Tiga bulan berlalu, dan keadaan ternyata makin memburuk. Pertahanan Indonesia ternyata jebol juga. Tidak hanya Bali, semua wilayah di Indonesia berteriak, bukan hanya karena virus corona, tapi lebih karena multiplier effect yang ditimbulkannya.

Lockdown, atau tidak?

Mati karena corona, atau mati karena kelaparan?

Begitu saja selama berbulan-bulan, media sosial diwarnai perdebatan tanpa ujung pangkal. Setiap kebijakan pemerintah, disambut dengan celaan. Kebanyakan masyarakat tanpa sadar disetir oleh pemberitaan media online, termasuk surat kabar yang konon kredibel, yang mengandalkan headline bombastis tanpa kesesuaian dengan isi berita.

Akhir September 2020, saya kembali ke Bali. Puji Tuhan saya masih dikaruniai kerjaan, meski tentu ada saja yang tak sempurna. Demi menutup kekurangan yang diakibatkan pemotongan gaji dan ketiadaan THR, saya benar-benar banting tulang kerja tanpa henti. Tapi semua itu disyukuri saja, karena saya mendapat banyak teman baru, banyak rekanan baru, banyak peluang baru.

Saya takkan bisa survive selama 2020, tanpa teman-teman baik saya, tanpa partner di Jakarta sana yang menjadi sumber kekuatan saya. Kebaikan-kebaikan mereka menjadi pemicu bagi saya untuk berbuat baik juga bagi sesama, selagi saya bisa.

Saya terlatih untuk lebih bersyukur atas hidup ini, atas sekecil apapun berkat yang saya dapatkan.

Saya terlatih untuk lebih bersandar pada Tuhan. Apa yang Ia janjikan tak pernah meleset, hanya saya saja yang sering alpa menindaklanjutinya.

Saya terlatih untuk hidup lebih tenang. Tanpa huru-hara drama, tanpa kegilaan pesta. Semua berjalan dengan begitu saja. It is what it is, itu salah satu perkataan mantan boss saya yang sering terngiang di tahun 2020 kemarin.

Pun, pergantian tahun terasa begitu saja. Sudah terlalu bosan membuat resolusi – karena hampir semuanya tidak ada yang saya tepati.

Jangan salah ya. Mungkin resolusi cocok bagi kalian, tapi tidak bagi saya. Seperti juga satu artikel di Medium yang saya baca pagi ini. Rutinitas, mungkin bagus bagi kebanyakan orang, tapi tidak untuk beberapa orang lainnya. Saya jadi tercerahkan, sebagai “beberapa orang lainnya”, saya paham sekarang mengapa saya selalu gagal membangun rutinitas seperti kebanyakan orang. Tapi itulah saya.

Jadi, mari kita sambut 2021 dengan biasa-biasa saja. Fokus pada apa yang bisa kita kerjakan, tanpa ngedumel tentang apa yang tidak bisa kita terima. Hemat energi pada hal-hal yang penting saja, dan biarkan para SJW menggonggong tiada henti – toh celotehan mereka nggak ngefek buat hidup saya dan nggak bisa bayar bill bulanan saya.

Jadi ya gitu deh. Selamat tahun baru buat yang merayakan, selamat mewujudkan resolusi buat yang sudah bikin resolusi, dan selamat cari duit sebanyak-banyaknya di tahun 2021 (ini buat saya, sih).

(Oya, kalau ada yang nanya, kenapa feature image-nya spion tanpa kaca, itu kaca spion mobil saya yang terhempas oleh laju mobil dari arah berlawanan. Untung saja cuma kacanya yang melayang, dan lebih untung lagi, saya punya teman baik di bengkel yang sukarela membantu memperbaiki dengan harga pertemanan. Dan kalau dipikir-pikir, boleh juga nih buat reminder, agar jangan sering menoleh ke belakang kecuali saat diperlukan. Nggak perlu lagi kaca buat menoleh-noleh masa lalu. Move on, gitu.)

Diterbitkan
Dikategorikan dalam percikan

Oleh bayik

Pernah menjadi juara catur nasional senior wanita tahun 1992. Anjrit, udah lama bener itu yak!

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *