Tips Menjadi Gelandangan Bermartabat Saat Pandemi

Tips Survival Sebagai Gelandangan Saat Pandemi
Tips Survival Saat Pandemi

Disclaimer: Tulisan ini sebenarnya sudah siap di awal Oktober 2020, tepat ketika saya bereksperimen menjadi gelandangan bermartabat saat pandemi. Tapi karena menjaga perasaan teman-teman dan kekasih saya dan orang-orang yang sayang sama saya, akhirnya tulisan ini tertunda penayangan. Akhirnya saya terbitkan sekarang, sekadar untuk rekam jejak saja.

Beberapa bulan yang lalu (tulisan ini dibuat bulan Oktober 2020 – pen.), saya membaca sebuah artikel tentang homeless people di Amerika sana. Pandemi akibat coronavirus ini membuat jumlah homeless people, atau sebut saja: gelandangan, meningkat pesat. Tidak hanya di Amerika, namun di Jakarta pun sempat beredar berita tentang orang-orang yang terdampak krisis dan tidak mampu membayar kost atau sewa rumah, dan terpaksa keleleran di jalanan – meski untuk sementara.

Jadi, ketika beberapa hari lalu saya dihadapkan pada homeless situation (nggak perlu saya ceritakan detail mengapanya ya), saya terpikir: “Hmm, sepertinya asik juga nih menjadi homeless semalam-dua.”

Patut diketahui, saya memang senang bereksperimen dalam hidup. Saat mahasiswa dulu, saya pernah eksperimen berapa hari saya tahan untuk tidak mandi.

Itu sekadar latar belakang saja agar kalian paham betapa isengnya saya dalam menjalani hidup ini.

Akhirnya, jadilah saya tekadkan sehari itu saya menggelandang.

Oya, saya sudah kembali ke Bali ya, mangkanya “beruntung” bisa bereksperimen kayak gini. Kalau di Jakarta, kekasih saya pasti murka atas ide gila ini. Untuk apa menggelandang kalau masih dikaruniai tempat tinggal yang penuh kehangatan.

Di Bali, saya diberi fasilitas mobil kantor – bensin tanggung sendiri. Satu koper dan barang-barang kost lama yang cuma ada 3 kardus, memenuhi tempat duduk belakang.

(Itulah enaknya jadi minimalis. Lebih bebas mau ke mana pun tidak pusing mikirin barang yang segudang.)

Perjalanan menggelandang saya tentu saja dimulai selepas kantor.

Makan malam dulu, jangan lupa. Kondisi kesehatan harus tetap dijaga.

Selesai makan malam, saya nongkrong di kafe favorit. Singkat cerita, jam dua pagi saat kafe hendak tutup, barulah saya meninggalkan tempat. (Biasanya kafe ini buka 24 jam, tapi karena pandemi, jam operasional dibatasi. Ini pun di Bali sudah termasuk langka, saya belum menemukan coffee shop yang buka sampai lewat tengah malam.)

Nah, jam dua pagi, mau ngapain?

Saya berkeliling. Gelapnya jalanan nan sepi semakin bikin hati miris. Nggak ada lagi tongkrongan pinggir jalan, kecuali beberapa Circle K yang terlihat masih buka. Minimart lainnya sudah tutup semua.

Kuta, Seminyak, Denpasar, Sanur…

Ah, ke Circle K Kelan saja! Siapa tahu teman saya nongkrong di sana seperti kebiasaannya.

Circle K Kelan ternyata sepi. Mas-mas penjaga toko terlihat terkantuk-kantuk saat saya datang. Beli kopi botolan, lalu duduk istirahat di kursi depan toko. Pegel ‘kan ya cyin, nyetir manual hampir satu jam tanpa henti.

Sebenarnya bisa aja sih saya lanjut nongkrong di Circle K ini. Wifi cukup kencang. Sepi dari berandalan. Cuman ya malu aja kalau sampai diusir karena ketiduran.

Rencananya mau tidur di mobil di parkiran, tapi kok masih belum sreg.

Baiklah, mari lanjutkan perjalanan.

Di jam tiga pagi, setelah aktivitas seharian yang melelahkan, belum sempat tidur pula, apa yang kalian bayangkan? Ngantuk berat, pasti.

Berhati-hati saya menyetir, mengelilingi jalanan gelap sambil mengingat-ingat masa muda.

Dulu, sekali dua saya mengalami situasi yang bikin saya nggak bisa pulang ke kost (kunci ketinggalan, kunci hilang, parkir mobil penuh), dan solusi saat itu mudah saja. Coffee shop 24 jam masih banyak tersedia. Atau langsung cuss ke airport dan tidur di mobil di parkiran.

Pandemi kayak gini, kok males banget dianggap makhluk aneh kalau jam 3 pagi ke airport. Mau ngapain coba.

Saya mencoba mencari spot di mana saya bisa meminggirkan mobil dan tidur sejenak, tanpa diusir sekuriti atau aman dari gangguan orang jahat.

(Susah ya jadi perempuan. Coba saya laki, mau tidur di mana saja, sepertinya nggak masalah.)

Saya teringat satu spot dekat kafe favorit saya, tempat para supir Grab/GoCar mangkal. Sepertinya sepi kalau subuh.

Benar saja. Biasanya ada penjual nasi jinggo dan para supir yang meramaikan. Tapi lagi-lagi, pandemi gini berharap ada order masuk itu seperti mengharapkan mukjizat.

Saya memarkir mobil. Mengatur posisi kursi agar terasa lebih nyaman untuk tiduran. Matikan mesin dan AC. Buka jendela sedikit.

Tidur deh. Lumayan, ada sekitar setengah jam saya terlelap.

Bangun, pagi masih jauh. Apa ke Sanur saja, menyambut matahari terbit?

Meski belum segar benar, tapi lumayanlah kantuk sudah jauh berkurang. Sekarang tinggal menghabiskan waktu sambil menunggu seorang teman membalas WhatsApp saya. Saya bilang, kalau dia sudah bangun, segera kabari saya. Agar saya bisa meluncur ke rumahnya, dan numpang mandi!

Ohya, mungkin ada yang bertanya, berjam-jam di jalanan, gimana kalau kebelet pipis?

Bisa saja sih, numpang toilet di Circle K yang masih buka. Untungnya ada alternatif yang lebih cihuy. Saya tahu satu hotel yang jalan masuknya terbuka buat umum. Parkir mobilnya pun menyatu dengan jalan umum. Jadi saya parkir mobil saja, lalu bergegas ke toilet di lobby yang terpisah jauh dari resepsionis sehingga nggak bikin repot kena tegor. Lumayan, bisa numpang pipis dan cuci muka.

Sekitar jam lima, saya berkeliling melahap jalanan lagi. Petugas kebersihan mulai banyak terlihat. Langsung saya teringat masa muda. Saat itu saya sering pulang pagi, habis dugem yekan, dan sering tertohok bahwa sepagi itu orang sudah mulai bekerja keras sedangkan saya pulang dari senang-senang. Hidup, hidup.

Akhirnya jam enam pagi, pesan dari teman yang saya nanti, masuk juga. Tanpa babibu saya langsung mengarahkan mobil ke rumah dia. Numpang mandi, keramas, bercakap sejenak, lalu saya kembali menjalankan aktivitas sehari-hari. Main ke kantor teman. Di sana saya tertidur di meja, bisa dimaklumi karena tidur di mobil cuma setengah jam-an mana cukup.

Gitu deh pengalaman saya jadi homeless seharian.

Dibandingkan dengan pengalaman orang lain yang benar-benar harus jadi gelandangan karena tidak mampu menyewa tempat tinggal, tentu saja pengalaman saya tidak ada apa-apanya.

Lagian, itu ‘kan iseng aja. Kalau mau, saya bisa kok numpang di rumah teman. Atau, menerima tawaran teman lainnya yang menawarkan kamar gratis di hotel beliau. Beneran gratis, barter dengan jasa digital marketing saya untuk usahanya. Atau, terima bantuan dari kawan lain untuk bayar kost.

Tapi sesuai judul postingan ini, saya ingin merasakan bagaimana sih jadi homeless itu. Jadi gelandangan. Tapi yang bermartabat. Dalam artian ya jaga diri (bukan jaja diri), tetap tampil rapi dan wangi sehingga sedikit saja orang yang tahu apa yang saya alami dan nggak nyangka kalau saya homeless.

Dan sebenarnya, para gelandangan yang beneran itupun bermartabat kok. Dibanding para koruptor atau para boss culas yang suka nilep hak karyawannya misalnya, di mata saya gelandangan itu lebih punya martabat.

Just in case, kalian ditimpa nasib buruk sehingga mengalami situasi yang tidak mengenakkan ini, berikut beberapa tips dari saya.

  1. Jaga kesehatan. Ini prioritas utama. Apalagi di masa pandemi ini, di mana coronavirus mengancam kita di mana saja, kapan saja. Jangan biarkan perut kosong. Kalaupun terbatas budget, pasti ada tempat makan murah di mana Rp 10.000,- pun sudah bisa bikin kenyang. Kalau saya kepepet, makan jam 11 siang dan jam 6 sore, sudah cukup untuk sehari. Lumayan ngirit, toh?
  2. Selalu miliki paling tidak 1 teman yang bisa diandalkan. Teman yang membuat kalian bercerita apa saja termasuk buruk dan busuknya kalian. Yang bisa diketuk pintu rumahnya kapan saja (paling tidak, buat numpang mandi.)
  3. Bikin list tempat penting. Misalnya: toilet gratis dan bersih buat numpang pipis, laundry murah dan cepat, tempat parkir mobil yang aman dari gangguan.
  4. Selalu sedia perlengkapan mandi. Paling praktis, masukkan ke pouch sehingga mudah ditenteng ke mana saja. Sabun, shampoo, deodoran, tissue basah, pantyliners dan pembalut buat yang cewek (cowok kalau mau bawa juga gapapa sih, bebaaaas.)
  5. Percayalah bahwa ini semua sementara. Badai pasti berlalu. Yang penting jangan patah harap dan berusaha.

Di malam kedua, saya menangguhkan niat untuk kembali menggelandang. Ingat umur, men! Udah uzur, kalau sakit nanti lebih repot lagi.

Jadi ya, nginep di hotel murah meriah saja bermodal gesek kartu. Jelas, lebih aman ketimbang keliaran di jalan.

Tapi eksperimen seperti ini mengajarkan pada saya gimana berempati. Pada kaum homeless, pada orang-orang yang tidak seberuntung saya. Pada driver GoCar, GrabCar dan supir taksi yang sering harus menghabiskan waktu di jalan menunggu penumpang.

Akhir kata, sebisa mungkin, buka mata kita. Siapa tahu, teman-teman kita sendiri membutuhkan pertolongan, namun mereka gengsi untuk angkat bicara? Lebih baik proaktif daripada tahu-tahu keadaan mereka tak tertolong lagi.

Sebaliknya, buat teman-teman yang kesusahan, jangan gengsi minta tolong. Tentunya pada orang yang tepat ya. Nggak perlu berkeluh kesah ke media sosial. Cukup hubungi teman baik atau orang yang kalian percaya.

This too shall pass.

Dan sekarang sudah bulan April 2021. Tak terasa pandemi sudah setahun lebih kita jalani. Bali masih sepi, namun sudah mulai hidup dan berkegiatan. Semoga Bali cepat kembali!

PS: Featured image diambil dari Pixabay.

Oleh bayik

Pernah menjadi juara catur nasional senior wanita tahun 1992. Anjrit, udah lama bener itu yak!

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *