30 Days Writing Challenge - Day 10

Prove Me Wrong: Uang Tidak Bisa Membeli Kebahagiaan

Hari kesepuluh dalam 30 Days Writing Challenge. “Write about something for which you felt strongly”. Kalau menurut kamus Merriam-Webster, “feel strongly” artinya to have a strong or definite opinion (about something).

Kira-kira, hal apa ya yang bisa membuat saya kekeuh pendirian?

Saya orangnya gampangan sih. Maksudnya, take it easy. Pendirian saya nggak hebat-hebat amat sampai harus dibela atau sampai orang lain harus manut apa kata saya.

Lebih ke … bodo amat, gitu kali ye. Terserah orang mau punya pendapat apa, saya nggak peduli.

Jadi saya nggak pernah merasa punya strong opinion about something.

Saya sampai googling mencari tahu apa kata orang-orang tentang topik ini.

Ada yang concern soal sampah. Buang sampah harus pada tempatnya. Ya, ini saya juga sih, paling sebel kalau ada orang yang buang sampah sembarangan. Kalau tidak ada tempat sampah di sekitar saya, saya terbiasa mengantungi sampah tersebut sampai menemukan tempat sampah.

Tapi apa itu bisa dibilang I feel strongly about buang sampah, gitu? Menurut saya nggak strong-strong amat sih. Toh itu juga bukan sesuatu yang luar biasa.

Kalau ada satu hal yang membuat saya bersikeras dan bersikukuh akan pendapat saya, mungkin ini: “Uang tidak membawa kebahagiaan”.

Banyak teman saya yang melecehkan pendapat saya.

Mereka bilang, uang itu bisa membeli kebahagiaan.

Saya bilang, uang bisa membeli kesenangan, tapi tidak kebahagiaan.

Uang bisa membeli barang-barang yang membuat kita senang. Tapi perasaan senang itu temporer. Ketika perasaan senang itu sudah menipis, kita akan merasa hampa lagi, dan memerlukan membeli sesuatu untuk kembali merasa senang.

Tapi bahagia? Tidak semudah itu.

Saya kenal banyak orang beruang, yang hidupnya nggak karuan. Yang keluar 5 juta untuk sekali crot, dan setelah itu dia berpikir, “What the hell am I doing here?” Itu sebuah pengakuan teman saya. Yang ketika saya bertanya, “Apakah kamu bahagia dengan hidupmu yang sekarang?” jawabnya adalah “Tidak tahu.”

Banyak yang bilang, lebih baik menangis sendirian di dalam Porsche, daripada menangis sambil ngonthel sepeda. Pasti pernah dengar kutipan-kutipan serupa, ‘kan?

Memang, jauh lebih nyaman berada di dalam mobil mewah, daripada ngonthel sepeda dengan risiko kepanasan atau kehujanan.

Tapi bayangkan, ketika si empunya mobil mewah itu pulang ke rumah atau apartemen, dia disambut oleh kekosongan karena penghuni rumah yang lain entah ke mana, dengan jadwal kesibukan masing-masing yang menggila.

Sementara si pengonthel sepeda, pulang ke gubuknya disambut istri dan anak-anak yang menanti kehadirannya untuk menikmati makan malam bersama. Makan malam yang hanya berupa nasi putih dan telur dadar sebutir dibagi empat, plus sambal dan kecap. Sepanjang makan malam, mereka bertukar cerita tentang kejadian yang mereka alami seharian.

Ya, tentu saja banyak kemungkinan skenario soal si empunya mobil mewah vs si pengonthel sepeda. But I hope you got my point.

Begitu kita mendasarkan kebahagiaan kita pada uang, atau sesuatu yang lain, yakinlah bahwa kita tidak akan pernah mencapai kebahagiaan.

Meskipun kita sudah beruang banyak. Meskipun kelihatannya, kita bisa membeli semuanya.

Kelihatannya, ya.

Kita bisa membeli kasur mewah sampai orang menamainya Heavenly Bed. Tapi apakah kita bisa membeli tidur nyenyak?

Kita bisa membeli makanan semewah apapun, tapi apakah anosmia gara-gara kena Covid sialan itu, akan hilang dan penciuman kita langsung kembali setelah makanan mewah itu tersaji di depan kita?

Kita bisa membeli semua buku-buku yang ada di Gramedia, tapi apakah kita bisa membeli kecerdasan?

Banyaklah kata-kata mutiara semacam di atas, kalian bisa googling sendiri.

*****

Ya meski saya bukan miliarder sekelas Raffi Ahmad, saya pernah dalam posisi banyak uang. Berkecukupan.

Sebaliknya, saya juga pernah dalam posisi tidak punya uang. Mau beli apapun, musti ngitung-ngitung dulu.

Dan dalam kondisi punya atau tidak punya uang, saya merasa, saya sama bahagianya.

Saya tetap bisa menikmati hari.

Saya dibesarkan dalam keluarga sederhana. Orang tua tidak pernah menekankan saya untuk menghargai sesuatu atau seseorang berdasar materi.

Mungkin, karena itu saya tumbuh besar dengan pandangan, uang atau materi bukan segalanya.

Uang itu penting, memang. Dengan punya uang, saya bisa membeli hadiah cukup mewah untuk kekasih saya (yang sekarang sudah jadi mantan). Bisa jalan-jalan dengan menginap di hotel yang meski bukan bintang lima, tapi nggak perlu ngegembel lah. Bisa menikmati minuman di berbagai roof top yang tersohor di Bangkok atau Vietnam.

Tapi apakah dengan itu saya bahagia? Saya merasa senang, itu jelas.

Bagi saya, bahagia itu byproduct. Sesuatu yang lahir tanpa kita berintensi menciptakannya. Karena kalau kita ingin menciptakan kebahagiaan, kita akan semakin dijauhkan darinya.

Seperti orang yang ingin tidur. Semakin dia ingin tidur, saya jamin dia tidak akan bisa tidur.

Orang-orang yang mengaku bahagia itu banyak yang terkesima dengan kebahagiaan semu.

Punya mobil mewah, punya rumah bagai istana, pergi berlibur ke mana saja kapan saja suka.

Lucky them.

Tapi bahagia itu bukan sekadar yang tampak.

Orang bisa bilang dia bahagia, tapi sebenarnya, tidak.

Karena kebahagiaan tidak bisa diciptakan, apalagi dibeli.

Karena itu, saya bersikeras bahwa uang tidak bisa membeli kebahagiaan. Prove me wrong.


Posted

in

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *