#TIL: NASA Space Pen dan Problem Space vs Solution Space

NASA Space Pen
Studi Kasus NASA Space Pen

Hari ini saya pertama kali mendengar tentang cerita NASA space pen yang sudah banyak beredar di media sosial. Jadi ceritanya, NASA dikisahkan menghabiskan sepuluh tahun dan jutaan bahkan miliaran dollar untuk membuat pena (atau bolpen lebih tepatnya, ya) untuk digunakan oleh astronot di luar angkasa, sementara kompetitor mereka di tahun 1960-an yaitu Rusia, menggunakan solusi yang sederhana: pensil.

Bolpen yang kita pakai sehari-hari ini bisa bekerja karena gaya gravitasi. Bisa dimengerti kalau bolpen biasa ini tidak akan bekerja di luar angkasa, di mana gravitasi adalah nol.

Benar, bahwa akhirnya tercipta sebuah bolpen (yang diberi nama Space Pen) yang bekerja dengan baik di luar angkasa maupun di mana pun.

Benar, bahwa penemuan Space Pen tadi memakan biaya satu juta dollar.

Astronot bekerja dengan Space Pen (Image Credit & Copyright: NASA)

Tapi bagian yang menyatakan bahwa NASA menghambur-hamburkan uang pajak untuk pembiayaan Space Pen tadi, dan juga the mocking part bahwa Rusia menggunakan pensil, adalah salah.

Yang melakukan penelitian intensif menggunakan dana pribadinya adalah Paul Fischer, pendiri Fischer Pen Company.

Mengapa tidak menggunakan pensil?

Ujung pensil dapat patah dan melayang di udara, memungkinkan melukai mata astronot atau menyebabkan kecelakaan lain seperti mengganggu koneksi elektrik di dalam pesawat ruang angkasa.

Long story short, penemuan Space Pen adalah sebuah inovasi yang brilian, yang akhirnya juga diadopsi oleh Rusia.

*****

Dalam bukunya, “The Lean Product Playbook“, Dan Olsen menggunakan cerita di atas beserta penjelasan yang lengkap agar para pembaca memahami cerita tentang Space Pen ini dalam konteks yang tepat.

Space Pen adalah contoh yang diberikan oleh Dan Olsen untuk memahami problem space dengan solution space.

Problem space yang dihadapi oleh NASA jelas: astronot membutuhkan bolpen yang bisa dipergunakan di luar angkasa.

Dengan penjabaran problem seperti di atas, kita dengan mudah – dan terburu-buru – melompat ke solution space yaitu menciptakan bolpen yang bisa dipergunakan di luar angkasa.

Tidak terbuka kemungkinan untuk solusi seperti pensil, karena penjabaran problem yang sempit.

Beda misalnya dengan “menciptakan alat yang memungkinkan para astronot menulis dengan baik meskipun gravitasi adalah nol”.

Itupun masih kurang lapang, ya.

Bisa kita perluas lagi menjadi “memungkinkan para astronot mencatat segala kegiatan mereka dengan baik selama berada di pesawat ruang angkasa”.

Dengan penjabaran di atas, kita bisa mengeksplor bermacam solusi mulai dari pensil, bolpen, atau mungkin kapur tulis, atau di zaman digital sekarang ini, pencatat digital?

Terlepas dari cerita seputar NASA Space Pen yang pada akhirnya terbukti bahwa solusi Space Pen memang yang NASA butuhkan, saya belajar tentang problem space vs solution space di atas.

Merumuskan permasalahan dengan tepat – tidak terlalu sempit, tapi juga tidak terlalu melebar dan abstrak – akan menuntun kita menemukan solusi yang tepat.

Bagaimana menurut teman-teman, ada yang mau menambahkan insight seputar kasus NASA Space Pen ini?

Oleh bayik

Pernah menjadi juara catur nasional senior wanita tahun 1992. Anjrit, udah lama bener itu yak!

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *