Surat Menyurat

Tentang Surat Menyurat

Ternyata sudah empat hari berlalu sejak saya post demi 30 Days Writing Challenge. Benar-benar di luar rencana. Saya pikir saya bisa meluangkan waktu paling tidak satu jam di malam hari untuk menulis, tapi seharian di depan laptop (hanya jeda untuk ke toilet, dan makan pun tetap di meja) membuat punggung ini berasa patah setiap selesai kerja.

Meskipun demikian, saya masih niat kok untuk meneruskan 30 Days Writing Challenge ini. Empat utang tulisan yang kemarin-kemarin akan saya cicil sambil menulis topik hari ini.

Hari ini hari ke-23, dan topiknya adalah “A letter to someone, anyone”. Hmm.

Pengin menulis buat mantan, atau buat mantan gebetan, tapi saya sudah malas mengumbar masalah pribadi di medsos (kecuali kalau curhat colongan ya, can’t help it).

Menulis buat Jokowi? Malas juga. Sudah lama saya tidak memperhatikan dunia politik. Nyari duit adalah hobi saya sekarang.

Menulis surat buat seseorang itu ‘kan menunjukkan jika seseorang itu berarti buat kita, ya. Punya arti khusus, baik sebagai teman maupun gebetan maupun kekasih atau selingkuhan.

Yang membuat kita rela meluangkan waktu menulis surat khusus untuknya.

Dulu waktu belum ada internet, belum ada email, saya hobi menulis surat.

Tulis tangan.

Berlembar-lembar pun.

Apalagi saat jatuh cinta pertama kali. Dia di Jakarta, saya kost di Jogja. Rutin saya berkirim surat, bercerita tentang kejadian keseharian. Dia pun sesekali membalasnya.

Surat paling panjang yang pernah saya tulis, seingat saya, 18 halaman folio.

Mengapa saya ingat benar? Karena pada saat saya sampai di kantor pos, saya tidak bisa menemukan amplop tebal itu. Pastinya jatuh di jalan antara Pogung Kidul – Bulaksumur. Ya sudah, saya tidak cari, saya anggap itu pertanda memang surat itu tidak harus terkirim.

Hobi menulis surat sudah saya mulai sejak di Sekolah Dasar.

Di majalah anak-anak seperti Bobo, ada rubrik khusus untuk Sahabat Pena.

Memang jaman dulu itu privasi longgar banget ya. Kita tidak segan berbagi alamat rumah pada orang lain. Ya kalau enggak, gimana surat kita mau sampai ke sahabat pena kita?

Hanya ada satu yang akhirnya rutin jadi sahabat pena saya. Seorang cewek di Surabaya.

Tapi saya memutuskan berhenti berkirim surat ketika saya tahu bahwa rumah dia berada di kompleks elit-nya Surabaya. Sementara saya anak kampung, gitu. Mendadak minder.

Seingat saya, dia pernah sekali berkirim surat menanyakan kenapa saya tidak pernah lagi balas suratnya. Tapi tidak saya jawab. Lha gimana bilangnya, “Saya miskin, kamu kaya.”

Padahal ya apa hubungannya kaya miskin, dengan menjadi sahabat pena. Lagipula, belum tentu juga dia beneran kaya, bisa jadi rumahnya memang di kompleks elit tapi di bagian belakang yang biasanya diperuntukkan untuk rumah-rumah yang tidak seberapa elit.

Pola pikir anak SD memang aneh.

Kalau dipikir-pikir sekarang, hobi menulis surat itu yang menumbuhkan hobi menulis saya, ya.

Dalam menulis surat, kita terbiasa merangkai kata untuk menceritakan kejadian apa saja yang sudah kita alami seharian. Atau perasaan apa yang sedang menghinggapi diri kita. Atau ide apa yang kita punya.

Hadirnya internet merusak tradisi menulis surat dengan pena. Lebih praktis tentu lewat email.

Tapi setelah media perpesanan instan macam WhatsApp hadir, rasanya jarang ya kita menulis email di luar urusan pekerjaan.

Semua sudah bisa disampaikan secara langsung. Begitu setelah kejadian. Tidak perlu menunda lagi.

Dan ngapain berpanjang kata bagai pujangga, kalau semua bisa ditulis sembari kita bercakap lewat media perpesanan instan.

Dan surat yang kita tulis lalu kita bubuhi perangko dan kirim lewat kantor pos pun, mendapat julukan “snail mail”. Ibarat siput, lambat kali sampenya.

Eh, kalau nggak salah, ada aplikasi yang memfasilitasi kita menemukan teman sahabat pena. Bukan untuk berkirim surat, tapi berkirim kartu pos. Tujuannya untuk menemukan teman di negara asing yang bahasanya ingin kita kuasai. Jadi buat latihan berbahasa asing, gitu.

Nah, tertulis juga deh posting hari ke-23 ini. Meskipun tidak berbentuk sebuah surat, tapi membahas tentang surat-menyurat itu sendiri. Sah-sah saja, ‘kan?

Kalau kalian, masih punya kebiasaan menulis surat? Bukan surat izin nggak masuk kerja ya. Atau menulis email panjang?


Posted

in

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *