Film yang nggak bikin bosan

3 Film Yang Tak Akan Pernah Bikin Saya Bosan

Hari keempatbelas dalam 30 Days Writing Challenge. Kali ini kita bahas soal film. Post your favorite movies that you never get tired of watching. Saya bukan pecinta film beneran yang kalau menikmati film sampai paham segala efek, teknik penyutradaraan, dan fakta-fakta emejing tentang film itu. Saya hanya penikmat film biasa.

Kalau topik di atas saya bahas beberapa tahun silam, rasanya jawaban saya nggak akan jauh dari film seperti Moulin Rouge, Dead Poets Society, Phantom of The Opera. Film cinta-cintaan gitu deh.

Berhubung kita bahasnya hari ini, jawaban saya bakalan beda.

Sekarang saya sudah tidak begitu menye-menye soal cinta. Jadi dengar gombalan kayak di Moulin Rouge, kok malah jadi pengin skip skip skip.

Jadi kalau ditanya film apa yang saya nggak akan bosen nontonnya, sepertinya ini.

  1. Carol (2015)
Official Trailer Carol

Meski film ini keluar tahun 2015, saya baru nonton sekitar 2018. Dan sejak itu, sampai saat ini, tergila-gila sama Rooney Mara dan Cate Blanchett. Eh Rooney sih enggak setelah dia menikah sama River Phoenix (gak ada hubungannya sih, tapi cuma nggak senang aja melihatnya).

Menurut saya film ini puitis banget. Cate dan Rooney menjiwai banget peran mereka di film ini, sampai-sampai banyak fans mereka yang percaya kalau ada hubungan khusus antara Cate dan Rooney di luar dunia film. Atau paling nggak, banyak yang berusaha menjodohkan mereka.

Film ini bercerita tentang ibu seorang anak, Carol, yang sedang di ambang perceraian. Dia bertemu dengan Therese, seorang anak muda yang polos dan tidak paham apa itu cinta. Carol yang jauh berpengalaman seperti jadi mentor cinta bagi Therese. Endingnya agak menggantung, tapi saya rasa semua penonton paham dan akan tiba pada kesimpulan yang sama.

  1. Ready Player One (2018)

Begitu keluar film ini di tahun 2018, saya nggak bosan menontonnya. Apalagi kemudian tersedia di Netflix, jadi bisa putar kapan saja. Biasanya kalau lagi nggak ada ide nonton apa, saya nonton Ready Player One.

Padahal filmnya biasa saja. Tapi temanya tema kesukaan saya. Sci-fi gitu deh. Membahas kehidupan manusia di tahun 2045. Di tahun itu, banyak manusia yang baru merasa hidup jika berkunjung ke OASIS, sebuah virtual universe di mana kita bisa menjadi siapa saja, ngapain aja, ke mana saja.

Official Trailer Ready Player One

Film ini jadi menarik di tahun 2022 ini setelah Mark Zuckerberg mendeklarasikan Meta dengan metaverse-nya, dan umat manusia berbondong-bondong menyerbu dunia virtual.

Akankah bumi menjadi seperti yang digambarkan dalam film Ready Player One? Menurut saya, bisa jadi. Saya belum begitu paham metaverse, tapi segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Kalau segala sesuatu terjadi secara virtual, bagaimana dengan para petani yang menanam beras kita? Akankah kerja keras mereka dihargai semakin rendah, atau malah jadi makin tinggi pamornya karena bakalan jarang yang mau menggarap sawah di dunia nyata?

Sutradara Ready Player One adalah Steven Spielberg. Pantesan, keren banget filmnya!

  1. Spirited Away (2001)

Saya terbilang terlambat mengenal film Ghibli. Bahkan ketika semua heboh tentang Totoro, saya nggak tahu cem mana makhluk itu. Pacar saya waktu itu yang mengenalkan Ghibli pada saya. Dipermudah kemudian ketika Netflix menayangkan hampir semua film Ghibli, akhirnya saya terpincut pada karya-karya Hayao Miyazaki, pendiri Studio Ghibli.

Official Trailer Spirited Away

Spirited Away bagi saya satu film yang menarik. Film anime ini menyuguhkan banyak adegan yang sepertinya hanya bisa tercipta di otak Miyazaki.

Kalau Ready Player One membahas keberadaan dunia virtual, Sprited Away juga membahas dunia lain yang dinamakan Yuuya. Chihiro dan kedua orang tuanya tersesat dan memasuki Yuuya. Petualangan Chihiro di dunia ini takkan pernah bosan untuk disimak.

Menurut banyak pengulas, Hayao Miyazaki menyampaikan banyak kritik sosial lewat film ini. Ketamakan seorang pengusaha yang menindas para buruhnya. Ketamakan orang-orang seperti orang tua Chihiro yang tidak bisa berhenti makan enak. Ketidakpedulian manusia pada lingkungan sehingga membuat Dewa Sungai begitu kotor dan berbau busuk akibat sampah-sampah yang mengotori sungai.

Toh, kritik sosial tersebut tidak membuat film ini jadi propagandis. Semua pesan disampaikan lewat metafor dan penggambaran yang manis.

*****

Rasanya nggak banyak lagi film yang bisa bikin saya betah menonton berkali-kali. Dengan kata lain, sekarang saya pembosan.

Tapi tiga film di atas selalu bisa saya tonton kapan saja, terutama kalau lagi lemah dan butuh penyemangat.

Kamu mau temani saya nonton film-film di atas?


Posted

in

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *