Respect is earned, not given

Hormat Menghormati dalam Dunia Kerja, Jangan Sampai Gila Hormat Ya!

Saya tak hapal di luar kepala berapa perusahaan yang pernah menjadi tempat kerja saya. Musti ingat dulu dan menghitung satu-satu, gitu.

Tapi saya ingat pelajaran apa yang saya dapatkan sepanjang saya bekerja di berbagai perusahaan tersebut.

Tentu saja, saya belajar dari para pemimpin perusahaan, dari rekan sekerja, dari siapa saja.

Kejadian sehari-hari bisa menjadi sumber inspirasi untuk saya pikirkan lebih lanjut. Terus jadi bahan tulisan di blog ini, seperti tulisan kali ini.

Beberapa hari ini saya teringat sebuah kejadian di sebuah perusahaan. Saya bukan pegawai tetap di sana, tapi saya sering mendapatkan cerita tentang hampir semua yang terjadi sehari-hari di sana.

Kisahnya begini.

Di morning briefing, seorang staf bernama Ridho (bukan nama sebenarnya) mendebat pemaparan supervisor bernama Jensen (tentu juga bukan nama sebenarnya).

Seusai meeting, si founder menegur Jensen. “Kamu tahu, Ridho itu tidak hormat padamu saat meeting tadi.”

Entah gimana, si Ridho akhirnya mendatangi meja Jensen. Yang sampai ke telinga saya sih, si Ridho bilang pada Jensen bahwa, “Hei Jensen, kamu tidak menghormati saya di meeting tadi. Saya tidak terima.”

Waktu saya mendengar cerita ini, saya terbahak setengah mampus.

Plus sedikit iba. Pada Ridho dan si founder.

Anak-anak muda itu belum paham apa arti sebenarnya dari “hormat” itu. Atau kalau di-Inggris-kan, “respect”. Respek.

Mereka mungkin belum pernah mendengar bahwa “respect is earned, not given”.

Respek itu kita dapat bukan karena kita menuntut orang hormat pada kita, menghargai kita atau respek pada kita.

Respek itu timbul sebagai hasil sebuah proses tanpa rekayasa. Proses interaksi dua manusia yang pada akhirnya membuahkan respek tersebut, tanpa diminta.

Kalau kita sampai minta-minta orang untuk menghormati kita, itu namanya “gila hormat”.

Respek itu tidak bisa dipaksakan. Hanya karena kita seorang founder, misalnya, lalu tim kita harus respek pada kita.

Baiknya sih begitu. Tapi jadi founder belum tentu jadi seorang leader yang baik. Nah kalau sudah gitu, patut dipertanyakan, mengapa tim kita harus respek pada kita kalau kita bukan leader yang baik?

“Tapi mereka bertahan jadi tim saya.”

Bertahan jadi tim bukan berarti mereka menghormati Anda, boss. Bisa jadi alasannya sesederhana karena mereka butuh pekerjaan. Butuh gaji bulanan. Seperti yang saya tulis seputar toxic positivity di tulisan saya yang lalu.

Kembali ke masalah respek.

Saya sendiri, sepanjang pengalaman saya keluar masuk perusahaan, mengalami momen-momen tidak dihormati oleh sejawat.

Apa yang saya lakukan? Saya tidak marah-marah pada mereka. Saya introspeksi.

Apa yang kurang pada diri saya sehingga orang kurang respek pada saya? Saya cari kekurangan saya, saya tambal kekurangan saya. Saya belajar untuk menunjukkan keunggulan saya, dan pada akhirnya, mereka jadi respek melihat kerja keras dan dedikasi saya.

Kalaupun ada yang tetap tidak respek, ya saya nggak memaksa.

Kembali pada contoh kasus di atas. Lagipula, berdebat atau bersilang pendapat itu bukan berarti tidak respek kok.

Pada satu ketika, saya terlibat debat panjang dengan kolega saya. Suasana memanas sampai pimpinan kami ikut panas. Akhirnya, setelah proses lama, kami mencapai kata sepakat.

Keluar dari ruang meeting, kolega saya merengkuh pundak saya. “Sorry ya Bu, bukan maksud saya keras di meeting tadi.”

Saya terbahak. “It’s okay, Pak. Di meeting kita boleh mempertahankan pendapat masing-masing, tapi di luar, kita tetap satu tim kerja yang solid.”

Saya tidak menganggap serangan-serangan yang dia lancarkan di ruang meeting, sebagai bentuk tidak respeknya dia pada saya. Profesional saja, selama yang dia katakan masih relevan dengan pekerjaan kami dan tidak mengangkat isu pribadi.

Akhirnya malah, setelah meeting itu, kami saling bertambah respek satu sama lain.

Jadi ya gitu, sekali lagi, “respect is earned, not given”.

Kalau pengin dihormati, pertama-tama, tunjukkan bahwa kita memang patut dihormati.

Kepatutan itu bukan karena titel, jabatan, kekayaan, senioritas, atau label-label yang semu.

Tapi lebih dalam dari itu, yaitu kualitas diri kita. Kualitas kepemimpinan kita. Kualitas kemampuan kita.

Setelah itu, biarkan proses alami berjalan.

Jangan mentang-mentang merasa kita sudah layak mendapat respek, lalu kita tersinggung ketika orang tetap tidak hormat pada kita seperti harapan kita.

Alami saja.

Tanpa rekayasa.

Tanpa paksaan.

Last but not least, jangan lupa untuk respek terlebih dulu. Respek pada bawahan, karena tanpa mereka, kita takkan bisa mengerjakan semuanya sendirian.

Respek pada atasan, karena sering kali atasan punya beban yang tak bisa dibagikan pada kita.

Respek pada teman sekerja.

Respect others first lah pokoke.

Termasuk respek pada hak-hak mereka untuk tetap tidak respek pada kita.

Hormati saja, lha wong itu hak, kok.

Bukan kewajiban orang untuk hormat pada kita.

Kita juga nggak wajib hormat pada orang yang tidak pantas kita hormati.

Dan lagi, nggak penting banget deh memaksa orang untuk hormat pada kita.

Bahkan, nggak penting menghitung-hitung respek yang kita dapatkan.

Lebih baik kerja saja sebaik-baiknya. Setelah itu, respek akan mengalir pada kita sebagai buahnya.

Wis, mulai mbulet ‘kan?

Akhir kata buat Ridho dan founder di atas, kalau kalian mampir ke blog ini dan merasa tersungging karena cerita ini, maaf ya, waktu itu saya tidak sempat membagikan wejangan langsung pada kalian.

Jadi ya saya bagikan di sini saja. Semoga kalian tidak keberatan. (Keberatan juga gapapa, itu hak kalian kok. Tapi ya tidak akan mengubah apa-apa. Cerita ini akan tetap terpajang di blog ini, sebagai pengingat bagi para pembaca, bahwa “respect is earned, not given”.)


Posted

in

,

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *