30 Days Writing Challenge: Something That I Miss

Tentang Hal-Hal Yang Saya Rindukan, Ternyata Cuma Satu

Hari keenambelas dari 30 Days Writing Challenge. Sudah separuh jalan, nih! Hari ini diminta menulis tentang: something that you miss. Nah, sekali lagi, kalau berandai-andai gini saya paling nggak bisa. Banyak sih yang bisa diandaikan, tapi ujung-ujungnya pasti pada kesadaran: ngapain sih.

Misalnya, apakah saya kangen masa-masa saya jadi pecatur?

Jawabnya: tidak.

Memang menyenangkan, bergaul dengan sesama pecatur, dengan orang-orang yang punya passion yang sama dengan kita. Tapi, males juga saya mah kalau disuruh merasakan perihnya kekalahan, sakitnya dikhianati.

Jadi ya, ngapain kangen masa-masa saya jadi pecatur?

Atau, mungkin saya kangen dengan masa-masa saya jadi clubber (lumayan) tersohor di Bali?

Hampir tiap malam nongkrong di bar atau di club, hampir tiap minggu buka botol di Blue Eyes sampai-sampai kalau absen beberapa minggu, sudah di-SMS sama salah satu server andalan.

Keriaan tanpa batas. Tenggelam dalam minuman keras sampai mabok, sampai jackpot parah pun sudah pernah.

Kalau dibilang kangen, jelas tidak. Itu satu periode heboh yang sudah cukup saya jalani tanpa perlu terulang lagi.

BTW definisi kangen itu apa ya?

Kalau bagi saya, kangen itu ya ada perwujudannya. Misalnya kangen masa SMA, otomatis ada lanjutannya yaitu pengin balik ke masa tersebut. Gitu nggak sih konsepnya?

Kalau cuma “kangen” tanpa pengin balik lagi ke masa itu, atau terulang lagi pengalaman yang kita kangenin itu, kok kayaknya nanggung kangennya ya.

Cuma keingetan aja mah kalau itu namanya. Belum sampai pada taraf kangen. Benar, ya?

*****

Memikirkan something that you miss kok malah jadinya saya merasa hidup ini sudah cukup bagi saya. Maksudnya, berbagai pengalaman hidup sudah pernah saya rasakan. Lalu mau ngapain lagi?

Jadi kalau mau mati sekarang pun, ya silakan, asalkan mati seketika nggak pakai sakit dulu, gitu. (Tuhan: Lha kok nawar?)

Tapi kalau nggak dikasih mati sekarang juga nggak apa-apa. Soalnya masih banyak pekerjaan dan keinginan yang belum terwujudkan.

Keinginan saya nggak muluk kok. Jangan berpikir saya pengin punya rumah atau liburan ke Kelapa Dua, eh, Cappadocia, atau apa gitu.

Saya cuma ingin menyelesaikan kursus online yang sedang saya ambil.

Saya cuma ingin blog ini kembali ke traffic yang dulu sebelum saya telantarkan.

Ah, ternyata ada juga yang saya rindukan.

Saya rindu melihat ribuan pembaca mengunjungi blog ini dalam satu hari hanya karena satu artikel. Artikel andalan Balepoint yang setelah bertahun-tahun tetap dikunjungi orang, yang membahas tentang kejadian tamu marah-marah di hotel.

Itu saja ternyata yang saya kangenin.

Sepele banget ya?

*****

Kangen pada hal-hal tertentu, menurut saya sih nggak masalah. Itu membuat kita menjadi manusia yang punya perasaan.

Asalkan hati-hati saja. Kangen yang berlebihan bisa menjadi gerbang ke hal-hal yang tidak membangun. Ya misalnya jadi keterusan melamun. Atau jadi tidak mensyukuri hal-hal yang kita dapat sekarang ini.

Meskipun sebaliknya bisa juga terjadi. Rasa kangen saya pada traffic blog yang dahulu, membuat saya semakin bersemangat menulis setiap hari.

Semakin produktif, jadinya.

Memang, rasa kangen kalau diproses secara benar, bisa menghasilkan sesuatu yang positif, seperti kata artikel Psychology Today ini.

Seperti rasa kangen saya yang baru ketemu satu di atas itu. Kangen melihat angka 6,486 pengunjung dalam sehari.

Jadinya ya saya terdorong untuk menulis.

Tidak peduli ada yang baca atau tidak, yang penting terus menulis.

Karena seperti kata pepatah: teruslah hidup meski tak berguna.

Penting juga rasanya menyimak satu video di bawah ini tentang the power of nostalgia.


Posted

in

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *